Jurus Sri Mulyani 'Obati' Ekonomi Lewat Pengalaman Krisis 1998 dan 2008

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 03 Sep 2021 18:45 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Rapat itu membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Ekonomi Indonesia pernah terguncang saat krisis tahun 1997 hingga 1998 serta tahun 2008. Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengatakan peristiwa tersebut bisa menjadi pembelajaran terhadap kondisi perekonomian saat ini.

"Indonesia pernah mengalami krisis keuangan 97-98 di mana sektor perbankan mengalami guncangan luar biasa. Kita pernah mengalami krisis global tahun 2008-2009 di mana sektor keuangan sekali lagi juga mengalami guncangan luar biasa. Sekarang ini juga sedang mengalami guncangan dari tahun lalu jadi sektor keuangan itu harus sekarang belajar dari dua kejadian itu," kata dia dalam webinar FEB Unpad, Jumat (3/9/2021).

Menurutnya ekonomi harus tetap didorong pulih, bank maupun perusahaan atau masyarakat juga harus mengupayakan untuk balik lagi ke situasi yang sehat dan normal. Namun, itu semua masih dibayangi dengan COVID-19 yang penuh ketidakpastian.

"Ekonomi Indonesia yang harus diperbaiki sehingga sektor perbankan mulai percaya diri untuk meminjamkan perusahaan, juga melihat ekspansi usaha menjadi aman lagi. Ini semua masih dibayangi oleh COVID," tuturnya.

Meski masih dibayang-bayang dengan COVID-19 program pemulihan ekonomi melalui APBN masih harus digenjot. APBN digunakan untuk memfasilitasi vaksinasi gratis, membiayai stok oksigen, membiayai bansos, membantu dunia usaha.

"APBN membiayai biaya vaksinasi sekarang TNI-Polri, pemerintah daerah, rumah sakit Puskesmas, BKKBN, semuanya disisir melakukan vaksinasi, berbagai perbaikan fasilitas kesehatan rumah sakit, stok oksigen semuanya diperbaiki. Kemudian kita menggunakan APBN untuk melindungi masyarakat yang paling rentan, bantuan sosial diberikan kepada kelompok yang paling rentan," jelasnya.

"APBN membantu dunia usaha dari mulai usaha kecil menengah hingga korporasi," tambahnya.