Syarief Hasan Minta Pemerintah Cari Solusi Stabilkan Harga Telur

Angga Laraspati - detikFinance
Rabu, 08 Sep 2021 11:27 WIB
Para pekerja yang menggantungkan hidup dari industri ternak ayam petelur melakukan aktifitas sehari-hari di dalam kandang di kawasan Blitar, Jatim.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Syarief Hasan menyoroti turunnya harga telur ayam. Harga telur yang biasanya berada pada harga Rp 20.000/kg, turun hingga sampai ke level Rp 14 ribu/kg.

Menurutnya, ini adalah penurunan yang signifikan dan sangat berdampak pada keberlanjutan usaha peternak ayam, terutama bagi pengusaha pemula yang memiliki modal yang kecil. Jika penurunan harga ini berlangsung lama, dikhawatirkan akan ada banyak pengusaha ternak ayam yang gulung tikar.

Ia pun memberikan atensi khusus bagi kalangan peternak ayam yang terdampak penurunan harga telur dan menjadi gambaran nyata tentang perekonomian yang terjadi tingkat mikro. Jika penurunan harga ini berlangsung lama, tentu berdampak pada keberlanjutan usaha.

"Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk menjaga agar jangan sampai pengusaha gulung tikar, terutama bagi pengusaha kecil yang memang sangat rentan dengan gejolak harga," ungkap Syarief Hasan dalam keterangannya, Rabu (8/9/2021).

Menurut Syarief, telur ayam adalah salah satu kebutuhan pokok rakyat. Jika terjadi ketidakseimbangan dari sisi penawaran dan permintaan, maka memang ada persoalan ekonomi yang terjadi.

Dari sisi produksi, misalnya, jika pasokan melimpah, sementara permintaannya minim, jelas terjadi penurunan harga. Bagi produsen, ini tentu menjadi masalah, sebab biaya produksi menjadi tidak sebanding dengan harga jual.

Lebih lanjut Syarief menekankan hal-hal seperti ini perlu dimitigasi dan dicarikan solusi oleh pemerintah dan tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pada mekanisme pasar. Di sinilah pentingnya negara hadir untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan proporsional.

Dalam kasus turunnya harga telur ayam, pemerintah melalui badan terkait dapat melakukan langkah sinergis untuk menjaga kestabilan harga. Apalagi, secara regulatif, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020, harga telur maksimal dapat dijual Rp 21 ribu/kg.

Ini menandakan turunnya harga telur ini sangat memukul peternak ayam. Karenanya, pemerintah perlu turun tangan mencarikan solusi agar harga telur kembali pada batas wajar. Langkah ini dapat dilakukan baik di tingkat hulu menjaga kestabilan pasokan dan harga pakan, serta di tingkat hilir untuk menjembatani pasokan telur yang melimpah.

"Salah satu esensi berjalannya perekonomian adalah terjadinya kepantasan dan kewajaran antara penawaran dan permintaan. Ini adalah hukum dasar ekonomi. Cerminan ini nyata terlihat di tingkat mikro, apakah komoditas yang diperjualbelikan tidak merugikan salah satu pihak. Jika persoalan di tingkat mikro ini ternyata masif dan sistemik, serta terjadi di banyak komoditas, berarti ada yang bermasalah dengan statistik makro perekonomian," kata Syarief.

"Jangan sampai laporan mengesankan pertumbuhan ekonomi hanyalah angka-angka statistik di atas kertas, namun kenyataannya rapuh," sambungnya.

Lihat juga video 'Imbas PPKM, Peternak di Boyolali Keluhkan Harga Telur Ayam Menurun':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ara)