Pandemi COVID-19 Belum Usai, Masih Ada Ancaman 'COVID-22'?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 08 Sep 2021 11:51 WIB
Corona Viruses against Dark Background
Ilustrasi/Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Saat ini jumlah kasus COVID-19, terlebih di Indonesia terus mengalami penurunan. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada sebab pandemi ini masih belum berakhir.

Belum usai pandemi COVID-19, kini beredar kabar mengenai ancaman baru yang bisa saja muncul tahun depan. Seorang pakar memperkirakan tahun depan bisa muncul ancaman baru yakni 'COVID-22'.

Untuk diketahui, angka '19' pada COVID-19 merujuk pada tahun 2019 saat penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 pertama kali muncul. COVID-22, karenanya mudah dipahami sebagai ancaman yang mungkin muncul pada 2022.

Ancaman penyakit baru ini disampaikan oleh Prof Sai Reddy, seorang ahli imunologi, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Jerman, Blick, dan dikutip dari The Sun.

Dalam wawancara tersebut, Prof Reddy mengingatkan kemungkinan berbagai varian virus Corona berbahaya yang ada saat ini membentuk kombinasi yang memunculkan varian baru yang lebih kuat. Varian baru inilah yang disebutnya 'COVID-22'.

"COVID-22 bisa menjadi lebih buruk dari yang kita hadapi saat ini," sebutnya.

Dari Mana Asal Istilah 'COVID-22'?

Sebelum menyebut COVID-22 sebagai ancaman di masa mendatang, Prof Reddy mengingatkan bahwa varian Delta (B1617.2) yang mendominasi COVID-19 saat ini sebagai varian yang sangat menular. Varian ini disebutnya sebagai 'COVID-21'.

"Ini sudah bukan lagi COVID-19. Saya akan menyebutnya COVID-21," katanya.

Seorang penulis, Bruce Y Lee, dalam sebuah artikel di Forbes meragukan akurasi penamaan COVID-21. Salah satu alasannya, varian Delta teridentifikasi pertama kali di India pada Oktober 2020, sehingga tidak tepat jika merujuk tahun 2021 dalam penamaan COVID-21.

Alasan kedua, varian Delta masih merupakan virus yang sama dengan penyebab COVID-19 yakni SARS-CoV-2. Karenanya, nama penyakitnya akan tetap sama yakni COVID-19, singkatan dari Coronavirus Disease 2019.

Nama penyakit tersebut ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO, sementara nama virusnya ditetapkan oleh International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV). ICTV memberi nama SARS-CoV-2 berdasarkan keterkaitan genetik dengan SARS yang mewabah pada 2003.

"Meski berhubungan, kedua virus ini berbeda," kata ICTV.

Bakalan ada varian 'COVID-22'?

Sejumlah pakar meragukan perkiraan Prof Reddy soal COVID-22. Dikutip dari Health, ahli penyakit menular dari Vanderbilt University, William Schaffner mengatakan kalaupun akan ada varian baru mana namanya tentu bukan COVID-22.

"Mungkin akan dinamakan dengan aksara latin. Bukan COVID-22," katanya.

Jika yang dimaksud COVID-22 adalah benar-benar penyakit baru, maka butuh perbedaan yang benar-benar signifikan dibanding COVID-19. Prof Martin J Blaser dari Rutgers Robert Wood Johnson Medical School mengatakan, sulit memprediksi kemunculan penyakit baru di masa mendatang.

"Yang bisa kita prediksi adalah bakal ada varian baru COVID-19. Sebagian mungkin lebih baik, atau lebih buruk. Waktu yang menjawabnya," jelasnya.

Simak juga video 'Satgas: Virus Corona Varian Mu Tidak Ditemukan di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)