Tol Sering Macet Bikin Duit Rp 4,4 T 'Menguap'

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 08 Sep 2021 12:42 WIB
Kendaraan terjebak kemacetan di sejumlah ruas Jakarta sore ini, Kamis (1/4/2021).
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Chief of Business Development PT Roatex Indonesia Toll System, Emil Iskandar mengungkap kerugian akibat kemacetan di gerbang tol diperkirakan mencapai US$ 300 juta atau Rp 4,4 triliun per tahun. Tol macet karena ada antrean di gerbang tol.

"Kemudian, kerugian RI akibat kemacetan mencapai US$ 4 miliar atau Rp 56 triliun akibat kemacetan," paparnya dalam diskusi virtual mengenai Reformasi Sistem Transaksi Tol, Rabu (8/9/2021).

Dia mengungkap kerugian ini berkaitan dengan pengguna yang dinilai banyak membuang waktu di jalan tol karena antrean dan kemacetan. Mengingat transaksi di gerbang tol masih mengharuskan berhenti.

"Adanya kemacetan dan antrean di gerbang tol juga sampai saat ini karena pengguna mengharuskan stop di gerbang tol untuk transaksi," jelasnya.

Dia pun mengklaim dengan adanya sistem transaksi tol non tunai nirsentuh berbasis Multilane Free Flow (MLFF) tidak akan ada lagi berhenti saat transaksi.

"Nanti dengan ini tidak ada lagi berhenti transaksi ke depannya. Pengguna hanya tinggal melintas saja," ungkapnya.

Perlu diketahui, bayar tol tanpa setop berlaku penuh di 2023. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menyatakan masa uji coba akan dilakukan pada pada Juli-September 2022, di mana penerapan pembayaran nontunai dengan kartu dan bisa bayar tol tanpa setop diberlakukan 50%-50%.

"Jadi, kami memberikan pilihan bagi masyarakat apakah mereka menggunakan tap elektronik seperti sekarang maupun pembayaran tanpa setop. Hingga akhirnya pada September 2023 itu kita lakukan secara penuh 100%," jelas dia.

Nantinya sistem bayar tol tanpa setop ini, akan disiapkan aplikasi bernama electronic on board unit (E-OBU). Aplikasi itu akan full diluncurkan pada Juli 2022. Di waktu yang sama pelanggan juga sudah mulai registrasi.

(zlf/zlf)