Gokil! Uang Rp 1 M Berputar Tiap Hari di Pengelolaan Sampah Plastik

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 08 Sep 2021 18:30 WIB
sampah plastik
Ilustrasi/Foto: Live Science
Jakarta -

Sampah plastik atau plastik bekas kemasan ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Bahkan per hari perputaran nilai ekonomi dari pengolahan plastik bekas kemasan berbahan polyethylene terephthalate (PET) mencapai Rp 1 miliar.

Hal itu terungkap dari riset terbaru Sustainable Waste Indonesia (SWI) yang mengungkapkan skema ekonomi sirkular sebagai salah satu strategi untuk pengelolaan sampah plastik. Ternyata skema ini mampu menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dalam hal daur ulang sampah.

Merujuk data dari Kajian Daur Ulang Plastik dan Kertas dalam Negeri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2021, total konsumsi plastik nasional mencapai 5,63 juta ton/tahun. Industri plastik daur ulang tanah air pun turut berkembang seiring dengan permintaan yang semakin tinggi.

Dari seluruh jenis plastik, kemasan minuman ringan termasuk dalam jenis yang paling banyak didaur ulang yaitu botol PET (polyethylene terephthalate) sekitar 23%, dan gelas PP (poly propylene) sekitar 15%. Hal ini menunjukkan secara umum kontribusi jenis plastik ini terhadap sirkulasi ekonomi di Indonesia.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai kontribusi rantai nilai sampah plastik minuman ringan terhadap ekonomi sirkular, SWI melakukan riset di wilayah Jabodetabek selama periode Maret-Agustus 2021. Dari riset tersebut, diperoleh tingkat daur ulang atau recycling rate botol PET sebesar 74%, galon PET 93%, dan gelas PP 81%.

Direktur SWI, Dini Trisyanti mengatakan bahwa studi yang dilakukan SWI ini juga menemukan kebutuhan industri terhadap material PET masih sangat tinggi karena inovasi produk berbasis PET terus berkembang. PET berpotensi tinggi menggantikan jenis material lain sehingga produk menjadi lebih terjangkau. Kebutuhan ini dipenuhi oleh post-consumer (sampah domestik), post-industrial, import scrap, atau virgin resin. Minimnya sumber bahan baku dalam negeri akan mendorong tingginya kandungan impor.

"Jenis plastik PET berkontribusi besar dalam daur ulang, yaitu mencapai 30%-48% dari total penghasilan para pengumpul sampah. Secara ekonomi, kontribusi PET di Jabodetabek mencapai setidaknya Rp 700 juta per hari (total dari rantai pengumpul) dan lebih Rp 1 miliar per hari (total dari rantai agregasi). Nilai ini melibatkan kurang lebih 57.500 lapangan kerja dan 1.370 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)," ujar Dini dalam keterangan tertulis, Rabu (8/9/2021).

Lihat juga video 'Prancis Bantu Indonesia Perangi Sampah Plastik di Laut':

[Gambas:Video 20detik]



Galon PET memiliki nilai recycling rate yang tinggi dan sangat diminati oleh pengumpul karena lebih berat dan mudah ditemukan. Selain di daur ulang, survei juga menemukan bahwa galon PET dimanfaatkan kembali secara luas oleh masyarakat untuk berbagai keperluan rumah tangga dan mendukung bisnis di tingkat UMKM.

Dari 4 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang disurvei selama periode penelitian, tidak ditemukan galon PET di timbunan sampah karena sudah tersortir dan terkumpul oleh para pemulung. Selama periode penelitian, survei di 14 sungai juga menemukan adanya jaringan pengumpul daur ulang (lapak sungai dan bank sampah) yang fokus pada sampah kemasan minuman ringan di perairan, dengan menggunakan instrumen 'penangkap' sampah. Kualitas sampah yang telah masuk perairan ini masih dapat diterima oleh pendaur ulang dengan harga yang masih baik.

Dari riset tersebut, ada beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan oleh setiap pemangku kebijakan (stakeholders). Pertama, selain pemilahan sampah mulai dari rumah tangga, konektivitas sistem juga sangat penting. Dari hal tersebut peran kebijakan dan sistem tata kelola sampah kota diperlukan agar tercipta konektivitas dengan industri daur ulang.

Kedua, diperlukan insentif ekonomi kepada rantai daur ulang; formal, semi formal, informal, untuk setiap peningkatan tonase atau kapasitas pengumpulan sampah kemasan pasca konsumsi.

Ketiga, diperlukan peningkatan kualitas livelihood informal sector, seperti sanitasi, akses kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Sebagai informasi, metodologi riset ini mencakup pengumpulan data primer, studi literatur dan pengumpulan data sekunder. Periset juga telah melakukan wawancara, observasi lapangan, dan kuesioner kepada para konsumen dan pelaku daur ulang sampah.

(das/eds)