Facebook Dituduh Langgengkan Penyebaran Iklan Diskriminatif

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 09 Sep 2021 09:30 WIB
Facebook, Twitter, dan LinkedIn Amankan Akun Warga Afghanistan dari Sasaran Taliban
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Perusahaan penyedia layanan jejaring sosial, Facebook, dituduh telah melanggar undang-undang kesetaraan dalam cara menangani iklan pekerjaan.

Melansir BBC, Kamis (9/9/2021), kelompok kampanye Global Witness mengatakan bahwa Facebook gagal mencegah penargetan iklan yang diskriminatif serta algoritmenya yang bias dalam memilih siapa yang akan melihatnya.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Global Witness, hampir semua pengguna Facebook yang menampilkan iklan otomotif adalah laki-laki, sementara iklan perawatan bayi terlihat hampir secara eksklusif untuk perempuan.

Di sisi lain Facebook mengatakan bahwa saat ini mereka sedang meninjau hasil temuan tersebut.

"Sistem kami memperhitungkan berbagai jenis informasi untuk mencoba dan menayangkan iklan kepada orang-orang yang paling mereka minati dan kami sedang meninjau temuan dalam laporan ini," jelas Facebook.

Sebagai informasi, pada 2019 lalu sebuah kasus hukum dibawa ke AS atas iklan terkait rumah di Facebook yang diduga didiskriminasikan berdasarkan etnisitas oleh Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan AS. Sejak itu pihak Facebook telah setuju untuk tidak mengizinkan iklan diskriminatif semacam ini di Amerika Serikat dan Kanada.

Meski demikian iklan diskriminatif ini dirasa masih dapat ditemui di Inggris,

"Fakta bahwa dimungkinkan untuk melakukan ini di Facebook di Inggris sangat mengejutkan," kata Naomi Hirst, seorang yang memimpin penyelidikan Global Witness tersebut.

Karenanya pihak Global Witness telah meminta pengacara Schona Jolly QC untuk memeriksa buktinya sehingga mereka dapat mengajukan tuduhan tersebut. Dalam pengajuan ke Komisi Kesetaraan dan Hak Asasi Manusia Inggris, Jolly menjelaskan bahwa sistem dan algoritma dari Facebook memberikan hasil yang diskriminatif.

"Sistem Facebook itu sendiri mungkin, dan tampaknya, mengarah pada hasil yang diskriminatif," tulis Schona Jolly QC dalam pengajuan tuduhan tersebut.

Global Witness juga telah menghubungi komisaris informasi tentang apa yang digambarkannya sebagai praktik diskriminatif yang dihasilkan dari cara Facebook memproses data untuk iklan pekerjaan.

(eds/eds)