Toko di Mal Tetap Gulung Tikar Meski PPKM Mulai Diperlonggar

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 09 Sep 2021 16:26 WIB
Meski operasional mal telah dibuka, namun suasana di dalam Blok M Square, Jakarta, Kamis (12/08/2021), terlihat sepi dari pengunjung.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Penyebaran COVID-19 secara nasional sudah mulai mengalami penurunan. Setidaknya saat ini tercatat ada 34 kabupaten/kota yang masih menerapkan PPKM level 4, 311 kabupaten/kota PPKM level 3 dan sebanyak 160 kabupaten/kota sudah menerapkan PPKM level 2.

Dengan menurunnya kasus penyebaran Covid-19, sejumlah tempat wisata dan Mal sudah mulai melakukan uji coba untuk dibuka kembali. Meski sejumlah aturan telah dilonggarkan, ternyata kebijakan ini masih memakan korban para penyewa toko di pusat perbelanjaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja mengakui memang ada penyewa toko di pusat perbelanjaan atau mal yang akhirnya memilih untuk tutup permanen di masa PPKM berlevel ini. Namun menurutnya jumlahnya tidak sebesar tahun lalu.

"Memang tetap ada beberapa penyewa juga yang menutup secara permanen tapi persentasenya tidak sebesar seperti tahun lalu," ucapnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/9/2021).

Sebagai informasi, tahun lalu pemerintah memilih untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menurut Alphonsus jangka waktu penerapan kebijakan pembatasan ruang gerak masyarakat itu menjadi faktor penentu jumlah tenant yang memilih gulung tikar.

"Penutupan operasional kan kurang lebih 1 bulan lebih. Jadi saya kira ini bisa dicegah penutupan permanen dari para penyewa. Tidak seperti dahulu. Dahulukan, tahun lalu sampai 3 bulan tutup operasional ya. Yang sekarang kan kurang lebih hanya 4 minggu sampai dengan 5 minggu tapi pemerintah sudah cepat-cepat memberikan kelonggaran. Jadi saya kira sedikit tertolong," ucapnya.

Dia juga menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik keputusan pemerintah yang terus memberikan kelonggaran dari operasional pusat perbelanjaan atau mal. Setidaknya sudah bisa mendorong tingkat kunjungan ke mal.

Namun Alphonsus mengungkapkan bahwa ada satu hal lagi yang menjadi harapan pengusaha pusat perbelanjaan, yakni diperbolehkannya anak kecil untuk masuk ke mal. Sebab saat ini aturan pengunjung pusat perbelanjaan dibatasi, yakni anak usia di bawah 12 tahun dan orang tua di atas 70 tahun dilarang masuk.

"Sebetulnya pusat belanja ini mengharapkan anak-anak di bawah usia 12 tahun itu bisa diperbolehkan masuk ke pusat perbelanjaan. Karena sekarang ini kan sebetulnya di dalam pusat perbelanjaan semua praktis sudah divaksinasi. Jadi relatif pusat perbelanjaan sudah jauh lebih aman dan sehat," tambahnya.

(eds/eds)