Teten Buka-bukaan Banyak Pinjol Berbalut Koperasi

Wisma Putra - detikFinance
Jumat, 10 Sep 2021 21:45 WIB
Pinjam Online
Menkop Teten Masduki/Foto: Dok. KemenkopUKM

Di sela kunjungan ke Kantor Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatap Sunda (DPKLTS), Teten membahas soal optimalisasi sumber daya alam (SDA) di Jawa Barat secara berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Teten ingin para petani di Jaw Barat menjalankan korporatisasi petani melalui koperasi.

"Korporatisasi petani di lahan perhutanan sosial memang harus dirancang, karena kita harus mulai membangun sektor pertanian kita dalam skala ekonomi. Nanti koperasi di sektor agrikultur itu harus terhubung ke pembiayaan, terhubung ke market itu biasa mensejahterkan petani," kata Teten usai mendengarkan Keluh Kesah petani di Jawa Barat.

Teten mengungkapkan, korporatisasi ini perlu dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan petani, khususnya para petani kecil.

"Kalau di kita, di Jawa Barat (lahan) petaninya di bawah setengah persen. Sampai kapan pun enggak mungkin bisa membangun kesejahteraan petani, karena itu perlu dikonsolidasi lewat koperasi sehingga masuk petani-petani perorangan atau lahan sempit dalam koperasi skala ekonomi," ungkapnya.

"Nanti nilai tukar pertaniannya, bakal naik secara sendirinya karena terjadi sirkuit ekonomi yang menggantikan yang tadinya memasarkan tenggelam ini lewat koperasi, karena koperasinya milik petani, juga ada unit simpan pinjamnya," tambah Teten.

Untuk menunjang hal tersebut, Teten juga menyebut perbankan harus memberikan porsi kredit lebih tinggi kepada para pelaku UKM dan petani.

"Bank diminta Presiden untuk meningkatkan porsi kredit ke UMKM khususnya pertanian di atas 30 persen di 2024, sekaeangkan baru 19,8 persen, terendah di Asia," tuturnya.

Saat disinggung apakah sudah ada petani perhutanan sosial yang memilki koperasi, Teten sebut ada.

"Ada, saya kita Sunda Hejo itu koperasi perhutanan sosial, sebelumnya memang sudah ada koperasi tapi kepemilikan lahan yang masih kucing-kucingan lah, belum masuk perhutanan sosial. Kalau dengan perhutanan sosial itu ada kepastian, bahwa mereka boleh mengelola lahan selama 35 tahun ada sertifikatnya dan berani menanam tanaman keras, kayu, buah-buahan dan kopi," jelasnya.

"Sebelumnya kan setahun diperpanjang, setahun diperpanjang, akhirnya kan di lahan konservasi mereka tanam jagung dan sayur," jelasnya.

Teten juga menyebut, potensi pertanian di Jawa Barat tinggi. "Potensi banyak, selatan selain kopi ada sayur-sayuran dan utara ada buah-buahan, termasuk tambak udang," pungkasnya.


(wip/hns)