Ambil 'Tongkat Estafet' G20, Jokowi ke Roma Akhir Oktober

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 14 Sep 2021 22:36 WIB
Presiden Jokowi
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berkunjung ke Roma akhir Oktober nanti. Kunjungan Jokowi ke ibu kota Italia ini untuk menerima 'tongkat' estafet G20 yang tahun ini dipegang Italia.

"Bapak Joko Widodo akan menghadiri penutupan KTT G20 di Roma pada tanggal 30-31 Oktober mendatang. Yang disana bapak presiden akan menerima secara resmi penyerahan tongkat estafet G20 dari PM Italia," kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers G20, Selasa (14/9/2021)

Selanjutnya mulai 1 Desember 2021 hingga 31 November 2022 giliran Indonesia menjadi tuan rumah presidensi G20 nanti. Rencananya akan ada 150 pertemuan selama periode tersebut

"Rangkaian ini merupakan antara lain working group tingkat Sherpa dan tingkat finance deputi pertemuan tiap menteri. Sehingga KTT dihadiri oleh seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan jumlah delegasi pertemuan sekitar 500 sampai 5.800 orang event sepanjang tahun," ujar Airlangga.

Dengan menjadi tuan rumah Presidensi G20, Indonesia memiliki kesempatan ikut menentukan kebijakan pemulihan ekonomi global. Terutama dalam ekonomi setelah pandemi COVID-19.

"Kesempatan secara strategis untuk ikut menentukan arah desain kebijakan pemulihan ekonomi global terutama pada masa pasca pandemi COVID-19,"

Airlangga menyampaikan G20 adalah forum ekonomi global yang dibentuk sebagai respons krisis ekonomi tahun 97-98. Lalu, G20 beranggotakan 20 negara yaitu 19 negara utama penggerak ekonomi dunia termasuk Indonesia.

Ditambah perwakilan Uni Eropa yang memiliki PDB terbesar di dunia. Kelompok ini berkontribusi 85% PDB dunia 75% perdagangan internasional dan 80% investasi global dan juga populasinya 2/3 dari penduduk dunia.

G20 ini juga diciptakan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi global yang berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. Forum G20 diharapkan menjadi role model bagi masyarakat internasional untuk memberikan solusi dari berbagai tantangan ekonomi global.

"Seperti krisis 98, resesi global 2008 dan situasi pandemi seperti ini," tutur Airlangga.

(hns/hns)