Pemerintah Diminta Cari Solusi Konkret Selamatkan Peternak Ayam Petelur

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Rabu, 15 Sep 2021 21:42 WIB
Peternak bagi-bagi telur ayam gegara harga anjlok
Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom
Jakarta -

Harga telur di pasaran beberapa hari belakang terus mengalami penurunan. Sebaliknya harga pakan terutama jagung masih relatif tinggi. Harga yang relatif timpang ini membuat peternak di berbagai daerah melancarkan protes.

Menurut Anggota DPR RI Dapil VI Jawa Timur yang juga Ketua Golkar Jatim M. Sarmuji, saat ini problem peternak ayam telur sudah sangat serius untuk dicarikan jalan keluar. Jika tidak maka peternak terancam gulung tikar dengan tanggungan utang yang menumpuk.

"Peternak ayam saat ini tengah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Pertama karena pandemi yang masih berlanjut hingga kini. Kedua, harga telur yang kian hari belum kunjung naik dan cenderung turun. Ketiga harga pakan terutama jagung yang masih relatif tinggi dari jangkauan para peternak," urai Sarmuji dalam keterangan tertulis, Rabu (15/9/2021).

Selain tiga masalah utama, Anggota Komisi XI DPR RI tersebut menilai bahwa peternak juga masih dihadapkan pada persoalan kredit bank.

"Masalah rendahnya harga telur dan tingginya harga pakan hampir tiap tahun dialami oleh para peternak. Untuk ketimpangan harga tersebut para peternak mau tidak mau pasti akan melakukan kredit bank sebagai tambahan modal," ungkapnya.

Oleh karena itu, legislator dari Dapil VI Jawa Timur tersebut meminta pemerintah dan instansi terkait untuk bekerja sama meringankan beban peternak.

"Kementerian Pertanian dan Perdagangan harus melakukan operasi pasar khususnya terhadap harga jagung yang melambung dan harga telur yang terus turun. OJK harus melakukan restrukturisasi kredit untuk para peternak," usulnya.

Selain operasi pasar yang sifatnya jangka pendek, Sarmuji meminta pemerintah untuk mengambil langkah kongkrit dan permanen agar kejadian yang berulang hampir setiap tahun ini tidak dialami lagi oleh peternak di masa mendatang.

"Yang lebih penting lagi karena polanya sudah berulang kali, maka pemerintah harus mengambil langkah kongkrit dan permanen agar kejadian serupa tidak terulang lagi di tahun-tahun mendatang," pungkasnya.

(akd/hns)