Punya Usaha Lalu Bangkrut, Apa yang Harus Dilakukan?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 16 Sep 2021 07:15 WIB
Jakarta -

Kebangkrutan adalah mimpi buruk untuk semua pelaku usaha. Sama seperti yang dialami oleh pemilik toko Greenland Toys Andy Kurniawan Jayasaputra dia juga berkali-kali bangkrut dalam menjalankan usaha mainannya.

Namun Andy selalu bangkit, hal ini karena dia meyakini jika keinginan yang kuat dan usaha yang gigih dan pasar yang masih tersedia bisa membantu menyelamatkan usahanya.

Andy menceritakan dalam memulai Greenland Toys, dia bukanlah orang yang punya latar belakang bisnis. Semua dia pelajari secara ototdidak. Ketika muda, dia memang tidak memikirkan untuk jangka panjang.

"Jadi pendapatan dan pengaturan keuangan waktu itu masih amburadul, besar pasak daripada tiang. Lama-lama kena juga nih operasional toko untuk pegawai dan lain-lain nggak bisa cover akhirnya tutup," kata dia dalam acara d'Mentor, Rabu (15/9/2021).

Dia menyebutkan, setelah bangkrut dia mengevaluasi diri apa saja yang harus dan tidak dilakukan lagi untuk ke depannya. Selanjutnya dia memfokuskan diri untuk bangkit. "Paling penting itu jangan menyerah. Waktu saya mulai itu salah pengertian, itu jadi pelajaran saya dan mulai lagi dari nol. Pasti ada sisa sisa dari usaha yang dulu yang bisa dipelajari dan tidak diulang," jelas dia.

Menurut dia, di balik setiap kegagalan pasti ada jalan untuk kembali bangkit. "Setelah bangkrut saya punya 2 atau 3 item untuk kembali dijual tapi saya tetap fokus jualan dan ya masih ada jalan," imbuh dia.

Andy menambahkan jika sudah fokus dan tidak sesuai harapan maka penjual juga harus rajin bergabung dengan komunitas. Kemudian sambil mencari celah pasar yang menarik sampai mencari informasi spesifik produk-produk terbaru.

Dia menyebutkan pandemi COVID-19 ini juga turut menekan usahanya. Dia juga terpaksa menutup toko-tokonya dan beralih ke penjualan online. Namun dia berusaha untuk bertahan dan bertanggungjawab kepada para pegawainya.

Pasar online menurut Andy memang salah satu jalan yang lebih efisien karena tidak ada biaya operasional toko seperti penjualan offline. Menurut dia, ketika membuat toko online penjual harus memiliki pembeda agar para pembeli bisa nyaman dan menyukai usaha tersebut.

(kil/fdl)