Ekonomi Lumpuh, 14 Juta Warga Afghanistan Terancam Kelaparan!

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 16 Sep 2021 10:21 WIB
402462 11: United States and Canadian Army medics render first aid to an American soldier, who fainted due to altitude sickness, during search and destroy operations against Taliban and al-Qaida fighters March 15, 2002 in the rugged Shah-e-Kot mountains, 25 kilometers (15 miles) southeast of Gardez, Afghanistan. Hundreds of American and Canadian troops were lifted into the mountainous region at high altitude to search for and destroy any enemy they encounter. (Pool Photo/Getty Images)
Foto: Getty Images/Getty Images
Jakarta -

Afghanistan sedang menghadapi ancaman kelaparan yang menakutkan setelah sebulan Kabul jatuh di tangan Taliban. Ekonomi negara tersebut hancur lebur meskipun ratusan miliar dolar telah dikeluarkan untuk pembangunan selama 20 tahun terakhir.

Kekeringan dan kelaparan mendorong ribuan orang dari pedesaan ke kota-kota dan Program Pangan Dunia PBB (WFP) khawatir persediaan pangan bisa habis pada akhir September. Jika itu sampai terjadi, 14 juta orang bisa masuk jurang kelaparan.

"Setiap orang Afghanistan, anak-anak mereka lapar. Mereka tidak punya sekantong tepung ataupun minyak goreng," kata penduduk Kabul, Abdullah dikutip dari Reuters, Kamis (16/9/2021).

Perhatian Barat terfokus pada apakah pemerintah baru Taliban akan menepati janjinya untuk melindungi hak-hak perempuan, atau justru menawarkan perlindungan kepada kelompok-kelompok militan seperti al Qaeda. Sementara bagi banyak warga Afghanistan, prioritas utamanya adalah kelangsungan hidup yang sederhana.

Antrean panjang masih mengular di luar bank, di mana batas penarikan mingguan sebesar US$ 200 atau setara Rp 2,85 juta (kurs Rp 14.233) diberlakukan untuk melindungi cadangan uang negara yang semakin menipis.

Terdapat pasar-pasar dadakan mulai muncul di Kabul yang mana para warga mulai menjual barang-barang rumah tangganya untuk mendapatkan uang tunai.

Bahkan dengan bantuan asing senilai miliaran dolar, ekonomi Afghanistan masih terus kesulitan dan gagal mengimbangi peningkatan populasi negara itu. Banyak pekerja yang tidak digaji sejak Juli lalu, lapangan pekerjaan pun sudah tidak ada dan ekonomi hampir mati.

"Keamanan cukup baik saat ini tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa. Setiap hari, segalanya menjadi lebih buruk bagi kami, lebih pahit. Ini benar-benar situasi yang buruk," kata tukang daging dari Bibi Mahro di Kabul, yang menolak menyebutkan namanya.

Tonton juga video inspiratif tentang peluang bisnis action figure di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)