Terpopuler Sepekan

Harga Brompton Cs Terjun Bebas, Ternyata Ini Biang Keroknya

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 14:15 WIB
Harga sepeda Brompton turun hingga Rp 6 juta.
Foto: Anisa Indraini/detikcom
Jakarta -

Sepeda 'sultan' alias Brompton dan sepeda branded lainnya kini harganya merosot. Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo Utomo mengungkapkan hal itu terjadi karena ekspektasi pedagang tahun ini permintaan sepeda tinggi seperti tahun 2020.

"Kenapa banyak sepeda turun harganya sekarang? Ya karena over supply, ekspektasi tahun lalu di luar dugaan sekarang dipersiapkan lah stok tahun ini tapi kenyataannya tahun ini nggak seperti tahun lalu," ujar Eko saat dihubungi detikcom, dikutip Sabtu (18/9/2021).

Ia mengatakan kini harga sepeda itu turun hingga 20%. Brompton yang awalnya dijual seharga Rp 45 juta kini menjadi rata-rata sekitar Rp 36,5 juta. Bahkan, kata Eko, ada juga sebagian pasar yang menjual sepeda Brompton di harga Rp 34 juta.

Dengan stok sepeda yang berlebih, penjual sepeda jadi harus lebih kuat untuk menjual stok yang masih ada. Karena diungkap, sampai akhir tahun produk baru masih akan datang dari Inggris, negara asal Brompton.

"Barang branded itu bulan September ini sampai akhir tahun seriesnya 2022 udah pada keluar. Jadi mau nggak mau kalau stok masih banyak mereka datang barang baru. Nah itu kan bisa istilahnya terlalu over stock yang akan mempengaruhi cash flow. Mau nggak mau harus diatur strateginya bagaimana barang lama cepat segera terjual dengan menurunkan harga maupun memberikan hadiah pembelian untuk setiap penjualan barang," jelasnya.

Eko juga mengungkap bagaimana Brompton, Giant, Specialized dan lain-lain sempat booming tahun lalu. Hal itu disebabkan karena kenaikan permintaan yang abnormal didasari atas tren bersepeda di masa pandemi COVID-19.

Tidak hanya itu, ditambah embel-embel kalangan menengah atas yang mengikuti tren sepeda branded. Oleh karena itu, distributor dan pedagang menaruh harap kejadian serupa akan terjadi di tahun ini.

"Jadi pada saat barang itu sudah ada di Indonesia, permintaan tinggi melebihi supply, harganya jadi melonjak. Lalu banyaklah parallel importer yang ngambil dari negara-negara lain yang masih ada stok dibawa ke Indonesia karena barang tidak ada, harganya jadi tinggi," imbuhnya.

(eds/eds)