Neraca Dagang RI Surplus Rp 67 T, Airlangga Singgung Kebijakan Ekonomi

Angga Laraspati - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 16:50 WIB
Airlangga Dorong Industri Kelapa Digenjot Pakai Teknologi
Foto: Dok. Golkar
Jakarta -

Laporan perdagangan Indonesia menunjukkan ekspor dan impor Indonesia telah membukukan kenaikan dua digit pada Agustus 2021. Hal ini karena aktivitas ekonomi yang mulai pulih dari tingkat perdagangan yang rendah pada tahun 2020.

Menteri Koordinator Perekonomian RI sekaligus Ketua Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto menilai sejumlah perbaikan dan peningkatan perekonomian Indonesia itu dipicu oleh kebijakan ekonomi yang menjadi keseimbangan gas dan rem.

"Selain itu juga kebijakan hilirisasi CPO dan produksi baja anti karat (stainless steel) yang merupakan keunggulan Indonesia selama ini," kata Airlangga dalam keterangannya, Sabtu (18/9/2021).

Diketahui, lonjakan ekspor mendorong surplus perdagangan ke rekor tertinggi sebesar US$ 4,7 miliar (Rp 67 triliun). Angka ini melonjak jauh melampaui ekspektasi pemerintah yang sebelumnya hanya menargetkan surplus US$ 2,31 miliar (Rp 32,9 triliun).

Ekspor Indonesia naik 64,1%, dibandingkan perkiraan 36,1%. Ekspor ini didorong oleh pengiriman keluar dari sektor minyak dan gas (+77,9%), pertambangan (+162,9%) dan manufaktur (+52,6%).

Surplus perdagangan yang cukup besar ini kemungkinan akan memberikan dukungan kepada nilai tukar rupiah dan mungkin cukup untuk mendorong seluruh neraca transaksi berjalan kembali menjadi surplus pada bulan Agustus.

Sementara itu, impor juga lebih tinggi dari yang diharapkan dengan membukukan kenaikan 55,26%, padahal perkiraan sebelumnya hanya perkiraan 45%. Angka ini juga mencerminkan membaiknya aktivitas domestik dibandingkan tahun lalu.

Kinerja yang kuat untuk sektor ekspor juga didorong oleh kenaikan harga komoditas, yang membantu ekspor mencapai rekor tertinggi selama ini. Jika harga komoditas tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang, ekspor dapat mempertahankan ekspansi yang solid untuk membantu menjaga surplus perdagangan pada tingkat yang tinggi ini.

Bank Indonesia baru-baru ini juga mengisyaratkan suku bunga kebijakan akan ditahan setidaknya untuk saldo tahun ini dan rupiah mungkin perlu memperoleh dukungan dari sektor ekspor untuk saat ini.

(akd/hns)