Terpopuler Sepekan

Puluhan Tahun Tak Pernah Terbangun, Jembatan Selat Sunda Disorot Lagi

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 17:22 WIB
Panglima Koarmada I, Laksamana Muda TNI Ahmad Heri Purwono saat meninjau Selat Sunda (Foto: M Iqbal/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Panglima Koarmada I, Laksamana Muda TNI Ahmad Heri Purwono saat meninjau Selat Sunda (Foto: M Iqbal/detikcom)
Jakarta -

Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) disorot lagi oleh Menteri Koordinator Perekonomian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Hatta Rajasa. Katanya, infrastruktur penting karena bisa mengoptimalkan keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Berdasarkan catatan detikcom, dikutip Sabtu (18/9/2021) konsep pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) penghubung Pulau Jawa dan Sumatera muncul sejak tahun 1960 oleh seorang profesor konstruksi Indonesia.

Konsultan JSS, Wiratman Wangsadinata mengatakan pada periode 1960-an, seorang profesor bernama Sedyatmo mencetuskan konsep Tri Nusa Bimasakti, atau interkoneksi antar tiga pulau yakni Jawa-Sumatera-Bali.

"Profesor Sedyatmo dalam orasinya di ITB yang pertama kali mengemukakan Tri Nusa Bimasakti. Interkoneksi antara tiga pulau, Bali-Jawa-Sumatera untuk menjadikan itu sebagai satu kesatuan ekonomi. Tapi belum mengatakan itu jembatan," kata Wiratman saat acara Simposium Arsitektur Jembatan Selat Sunda, di Hotel Bidakara, 5 September 2013.

Lima tahun kemudian, sekitar tahun 1965, Profesor Sedyatmo menuangkan ide untuk membuat terowongan terapung yang membentang pada ketiga pulau tersebut, namun wacana itu tidak terealisasi.

Barulah pada tahun 1986, Presiden Soeharto menugaskan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) untuk mengkaji Tri Nusa Bimasakti.

"Untuk lebih intensif lagi, dicarilah dana dari JICA (Badan Kerja Sama Internasional Jepang) dari tahun 1988-1992. Di situ diadakan sendiri kemungkinan jembatan, terowongan, dan sebagainya," papar Wiratman.

Karena direncanakan dibiayai oleh JICA, JSS berkiblat pada Jembatan Akashi Kaikyo di Jepang yang kini mencatatkan sebagai jembatan dengan bentang tengah terpanjang di dunia, yakni 1,991 km.

Di 1993, Profesor Wiratman mengusulkan untuk mengkaji proyek jembatan yang sama di Eropa karena sedang digaungkan proyek Jembatan Messina di Italia dengan bentang tengah 3,3 km. Hingga akhirnya 1997 Wiratman ditugaskan oleh BJ Habibie untuk mengkaji.

Dari situlah studi untuk mega proyek ini dilakukan. Kemudian tahun 1998, studi sempat terhenti karena Indonesia dilanda krisis. Rencananya akan dilanjutkan pada tahun 2004, diprakarsai oleh Pemprov Banten dan Lampung bersama dengan Artha Graha.