Pembangunan Jembatan Selat Sunda Dikubur Jokowi, Diungkit Menko Era SBY

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 14 Sep 2021 14:15 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat dari KRI Torani 860 di Perairan Selat Sunda, Banten, Kamis (27/12/2018). Hasil pemantuan terlihat aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak mengeluarkan kepulan asap seperti empat hari sebelumnya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/pras.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jakarta -

Menteri Koordinator Perekonomian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Hatta Rajasa kembali menyinggung pentingnya pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menyambungkan pulau Jawa dan Sumatera. Dia berpendapat infrastruktur tersebut akan mengoptimalkan keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Bicara mengenai Jembatan Selat Sunda, sebenarnya wacana ini sudah ada sejak lama. Berdasarkan catatan detikcom, konsep infrastruktur penghubung Pulau Jawa dan Sumatera tersebut muncul sejak tahun 1960 oleh seorang profesor konstruksi Indonesia.

Konsultan JSS, Wiratman Wangsadinata mengatakan pada periode 1960-an, seorang profesor bernama Sedyatmo mencetuskan konsep Tri Nusa Bimasakti, atau interkoneksi antar tiga pulau yakni Jawa-Sumatera-Bali.

"Profesor Sedyatmo dalam orasinya di ITB yang pertama kali mengemukakan Tri Nusa Bimasakti. Interkoneksi antara tiga pulau, Bali-Jawa-Sumatera untuk menjadikan itu sebagai satu kesatuan ekonomi. Tapi belum mengatakan itu jembatan," kata Wiratman saat acara Simposium Arsitektur Jembatan Selat Sunda, di Hotel Bidakara, 5 September 2013.

Tak lama berselang, sekitar tahun 1965, Profesor Sedyatmo menuangkan ide untuk membuat terowongan terapung yang membentang pada ketiga pulau tersebut, namun wacana itu tidak terealisasi.

"Tahun 65 jurusan teknik sipil ITB, berpartisipasi mengikuti pameran di gedung pola Jakarta, dan di situ dipamerkan maket mengenai Jembatan Selat Sunda. Pada saat itu teknologi jembatan masih sangat sederhana dalam maket ini pun bentangannya 1.200 meter (1,2 km)," katanya.

Tahun silih berganti, ide tersebut pun tidak tersalurkan. Barulah pada tahun 1986, Presiden Soeharto menugaskan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) untuk mengkaji Tri Nusa Bimasakti.

"Untuk lebih intensif lagi, dicarilah dana dari JICA (Badan Kerja Sama Internasional Jepang) dari tahun 1988-1992. Di situ diadakan sendiri kemungkinan jembatan, terowongan, dan sebagainya," papar Wiratman.

Lantaran akan dibiayai oleh JICA, pada saat itu, proyek tersebut fokusnya masih berkiblat pada Jembatan Akashi Kaikyo di Jepang yang kini mencatatkan sebagai jembatan dengan bentang tengah terpanjang di dunia, yakni 1,991 km.

Kemudian pada tahun 1993, Profesor Wiratman mengusulkan untuk mengkaji proyek jembatan yang sama di Eropa karena sedang digaungkan proyek Jembatan Messina di Italia dengan bentang tengah 3,3 km.

"Pada tahun 1997, saya ditugaskan Pak Habibie untuk mengkaji kemungkinan ada jembatan ultrapanjang di Selat Sunda," katanya.

Dari situlah studi untuk mega proyek ini dilakukan. Menginjak tahun 1998, studi sempat terhenti karena Indonesia dilanda krisis. Kemudian, rencana itu dilanjutkan pada tahun 2004, diprakarsai oleh Pemprov Banten dan Lampung bersama dengan Artha Graha

"Terhenti sampai 2004, Tomy Winata (Artha Graha) mengajak saya untuk menghidupkan kembali pembangunan JSS. Sejak itulah kami melakukan semacam perjalanan keliling ke Pemda Banten, Lampung dan berbagai instansi untuk mendorong percepatan pembangunan JSS itu," jelasnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Lihat juga Video: Tak Ada Jembatan, Warga Polman Nekat Terobos Sungai Mambu

[Gambas:Video 20detik]