6 Juta Orang Bisa Jadi Pengangguran Bila AS Gagal Bayar Utang

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 13:52 WIB
Pengangguran
Foto: Fuad Hasim
Jakarta -

Utang Amerika Serikat menumpuk dan membuat negara itu terancam tidak bisa membayarnya per bulan Oktober mendatang. Bahkan, pemerintah AS juga menyebut mereka bakal kehabisan uang jika harus melunasi pembayaran utang tersebut.

Menurut datalab.usaspending.gov yang dilansir dari CNN, jumlah utang negeri Paman Sam sudah sebanyak US$ 26,95 triliun atau setara dengan Rp 384,03 ribu triliun (asumsi kurs Rp 14.250) di tahun 2020. Ini artinya utang AS nyaris Rp 400 ribu triliun.

Yang bikin ngeri lagi adalah dampak yang terjadi apabila AS gagal bayar utang ratusan ribu triliun tersebut. Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengungkapkan akan ada bencana baru untuk perekonomian AS yang sedang dalam masa pemulihan bila utang tidak bisa dibayar.

"Ini adalah bencana keuangan yang sangat besar," kata Zandi.

Gagal bayar utang ini juga akan menjerumuskan AS ke jurang resesi baru yang lebih dalam. Dampak yang paling nyata akan terjadi adalah adanya 6 juta orang yang berpotensi kehilangan pekerjaan, dengan begitu angka pengangguran bisa naik hingga 9%.

Bila utang tak bisa dibayar, hal itu juga dapat menciptakan kehancuran di pasar keuangan dan mengganggu harga saham. Di tengah masyarakat juga akan terjadi penurunan kekayaan US$ 15 triliun.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen sendiri sudah menyampaikan peringatan soal kondisi gawat darurat ini dan meminta parlemen untuk meningkatkan batas utang. Tapi sampai saat ini, malah perdebatan panjang yang terus terjadi. Partai Republik menolak rencana peningkatan batas utang karena khawatir terkait pengeluaran pemerintah AS.

Jika Kongres gagal meningkatkan pagu utang dan Kementerian Keuangan terlambat membayar tagihan bahkan gagal bayar, maka pasar akan bereaksi buruk. Bisa jadi, runtuhnya pasar pada 2008 kembali terjadi.

Skenario buruk lainnya jika parlemen masih tidak melakukan peningkatan plafon utang dan masih terjadi kebuntuan adalah memaksa pemerintah AS menunda bantuan stimulus senilai US$ 80 miliar yang dibayarkan 1 November. Stimulus besar itu terdiri dari jaminan sosial, veteran dan militer yang masih aktif.

Simak juga Video: AS-Australia Sepakat, Jalin Kemitraan Demi Kepentingan Global

[Gambas:Video 20detik]



(hal/dna)