3 Dampak Ngeri Kalau AS Terlilit Utang dan Terancam Nggak Bisa Bayar

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 24 Sep 2021 05:44 WIB
Joe Biden berbicara soal kemerdekaan Palestina di Sidang Majelis Umum PBB. Ia menilai kemerdekaan Palestina jadi cara terbaik untuk pastikan masa depan Israel
Foto: AP Photo
Jakarta -

Amerika Serikat terlilit utang. Utang yang menumpuk dinilai dapat membuat negara itu terancam tidak bisa membayarnya per bulan Oktober mendatang.

Pemerintah AS juga sampai menyebut mereka bakal kehabisan uang jika harus melunasi pembayaran utang tersebut.

Menurut datalab.usaspending.gov yang dilansir dari CNN, jumlah utang negeri Paman Sam sudah sebanyak US$ 26,95 triliun atau setara dengan Rp 384,03 ribu triliun (asumsi kurs Rp 14.250) di tahun 2020. Ini artinya utang AS nyaris Rp 400 ribu triliun.

Yang bikin ngeri lagi adalah dampak yang terjadi apabila AS gagal bayar utang ratusan ribu triliun tersebut. Apa saja?

1. Resesi dan Pengangguran Bertambah
Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengungkapkan akan ada bencana baru untuk perekonomian AS yang sedang dalam masa pemulihan bila utang tidak bisa dibayar.

"Ini adalah bencana keuangan yang sangat besar," kata Zandi.

Gagal bayar utang ini juga akan menjerumuskan AS ke jurang resesi baru yang lebih dalam. Dampak yang paling nyata akan terjadi adalah adanya 6 juta orang yang berpotensi kehilangan pekerjaan, dengan begitu angka pengangguran bisa naik hingga 9%.

Bila utang tak bisa dibayar, hal itu juga dapat menciptakan kehancuran di pasar keuangan dan mengganggu harga saham. Di tengah masyarakat juga akan terjadi penurunan kekayaan US$ 15 triliun.

2. Krisis 2008 Terulang
Menteri Keuangan AS Janet Yellen sendiri sudah menyampaikan peringatan soal kondisi gawat darurat ini dan meminta parlemen untuk meningkatkan batas utang. Tapi sampai saat ini, malah perdebatan panjang yang terus terjadi. Partai Republik menolak rencana peningkatan batas utang karena khawatir terkait pengeluaran pemerintah AS.

Jika Kongres gagal meningkatkan pagu utang dan Kementerian Keuangan terlambat membayar tagihan bahkan gagal bayar, maka pasar akan bereaksi buruk. Bisa jadi, runtuhnya pasar pada 2008 kembali terjadi.

Skenario buruk lainnya jika parlemen masih tidak melakukan peningkatan plafon utang dan masih terjadi kebuntuan adalah memaksa pemerintah AS menunda bantuan stimulus senilai US$ 80 miliar yang dibayarkan 1 November. Stimulus besar itu terdiri dari jaminan sosial, veteran dan militer yang masih aktif.

3. Dampak ke RI
Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat merupakan mitra dagang banyak negara, termasuk Indonesia. Lalu jika terjadi kegagalan bayar seperti apa dampaknya ke Indonesia?

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan, jika terjadi default ini memang tidak langsung berdampak ke Indonesia. Dia menyebutkan, jika gagal maka akan terjadi guncangan hebat pada ekonomi global. Dari situlah akan berdampak ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Tapi menurutnya Indonesia hanya sedikit sekali memiliki surat utang yang diterbitkan oleh AS, atau malah tidak punya. Piter menyebut, jika AS gagal bayar maka harga surat utang yang dimiliki oleh banyak negara seperti China dan Jepang ini harganya akan jatuh.

"Nah surat utang pemerintah AS itu akan jadi junk bond kalau gagal bayar. Semua negara yang pegang akan melepas, ini membuat harga akan semakin jatuh dan pasti memukul ekonomi AS," jelas dia saat dihubungi detikcom, Kamis (23/9/2021).

Dia mengungkapkan, jika hal itu terjadi pasar keuangan dan ekonomi AS kolaps. Hal ini menurut dia tidak bisa dibayangkan. Negara dengan ekonomi terbesar di dunia terjerembab ke dalam jurang krisis akibat gagal bayar. Salah satu yang bisa dirasakan Indonesia adalah ekspor komoditi ke AS bakal berkurang.

"Jika sudah kolaps atau hancur, maka ini pasti mempengaruhi ekonomi global. Jika ekonomi global kolaps, permintaan barang ekspor komoditi akan jatuh semuanya, ini berdampak ke negara berkembang," ujar dia.

(hal/zlf)