Airlangga Harap Program Smart Farming Genjot Hasil Pertanian RI

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Jumat, 24 Sep 2021 13:52 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendukung program smart farming milenial untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Hal ini dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan rakyat.
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendukung program smart farming milenial untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Hal ini dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan rakyat.

Diketahui, program smart farming milenial merupakan ekosistem pemberdayaan milenial melalui pembinaan dan pengembangan ekosistem pertanian digital (IoT) dari hulu ke hilir serta meningkatkan Inklusi Keuangan Desa.

"Program milenial smart farming diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional sebagai dampak adanya pandemi COVID-19," ujar Airlangga dalam keterangannya, Jumat (24/9/2021).

Hal ini dia ungkapkan saat meninjau lokasi pertanian yang dikembangkan oleh petani milenial dengan konsep smart farming melalui penggunaan teknologi dalam agenda kunjungan kerja di Klaten, Jawa Tengah (24/09).

Dalam kesempatan itu Airlangga berbincang dengan salah satu petani milenial bernama Hartoyo. Hartoyo sebelumnya bekerja kantoran di Jakarta, namun saat ini ia sangat menekuni pertanian karena diakuinya penghasilan yang didapatkannya dari sini lebih besar.

Hartoyo menjelaskan kepada Airlangga mengenai mekanisasi pertanian otomatis menggunakan aplikasi yang diinstal di gawai tablet dan tenaga surya yang sudah digunakannya selama tiga bulan.

Aplikasi dan alat sensor cuaca dibuat oleh sebuah perusahaan rintisan anak bangsa. Sebelum sistem pertanian digital itu digunakan secara luas oleh petani milenial, perusahaan rintisan tersebut mencetuskan konsep Smart Farming 4.0 yang menjadi pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada gelaran Hannover Messe 2020.

Konsep Smart Farming 4.0 memberi jalan keluar bagi petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Caranya adalah dengan menggunakan alat sensor dan aplikasi, yang memberikan informasi yang dapat membantu petani untuk meningkatkan produksi pertanian, termasuk mengurangi pemakaian pupuk dan air.

Konsep tersebut menjadi dasar menciptakan aplikasi mobile yang berbasis teknologi pertanian untuk membantu pencatatan sistem bertani, memilih pedoman budidaya, serta penanganan dan pengolahan pertanian yang baik. Meningkatkan efisiensi pertanian dengan lebih mudah dan hemat namun dapat menghasilkan panen secara maksimal, disamping itu petani juga dapat dengan mudah mendapatkan akses mitra dan pasar yang tepat.

Selanjutnya, Airlangga bersama dengan Wakil Bupati Klaten dan Direktur Hubungan Kelembagaan BNI mencoba menanam padi menggunakan Treventer, sebuah mesin menanam otomatis. Menko Airlangga juga berbincang dengan ibu-ibu petani yang sedang menanam pada secara tradisional. Dia juga menanyakan perkembangan pertanian dan juga menjelaskan bantuan pemerintah khususnya KUR yang bisa diambil para petani untuk semakin mengembangkan pertaniannya.

"Hasilnya dengan sistem ini bisa antara 6-7 ton per hektare, dalam dua tahun bisa dua kali panen. Harga gabah basar saat ini mendekati Rp 5 ribu, karena Srinau (modifikasi beras Rojo Lele yang asli Klaten). Kalau semuanya menggunakan teknologi diharapkan produktivitas akan lebih tinggi lagi, apalagi sudah menggunakan alsintan otomatis untuk penanaman," pungkas Airlangga.

Lihat juga video 'Cegah Penurunan Produksi Pertanian, BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim':

[Gambas:Video 20detik]



(akd/ega)