Hari Tani Nasional, Petani Kini Bisa Lebih Gampang Jual Produk ke Masyarakat

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 25 Sep 2021 07:30 WIB
Petani kangkung yang berada dipinggiran kota Jakarta memanen hasil tanamannya di kawasan Jakarta Timur, Selasa (14/5/2013). Panen kangkung itu nantinya akan dipasarkan ke Pasar Pulogadung Jakarta Timur dengan harga kisaran Rp 4000 per-ikat. File/detikFoto.
Hari Tani Nasional, Petani Kini Bisa Lebih Gampang Jual Produk ke Masyarakat
Jakarta -

Kementerian Pertanian menyatakan di tengah pandemi, sektor pertanian masih tumbuh secara positif. Meski demikian, pertanian Indonesia masih membutuhkan dukungan seluruh pihak. Dengan demikian, pertanian dapat terus bangkit dan mempertahankan ketahanan pangan nasional.

"Pertanian adalah sektor yang kebal dan tangguh, salah satu atau bahkan satu-satunya sektor yang masih bisa tumbuh positif di masa pandemi. Pertanian cenderung tidak terganggu krisis ekonomi atau imbas pandemi. Produksi unggulan tetap bisa ditanam, bisa dioperasikan, bahkan menanam di pekarangan rumah pun bisa diupayakan," tutur Kasdi dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Kasdi menyampaikan ekspor menjadi penyumbang terbesar pada sektor pertanian, dengan angka mencapai 91%. Dalam hal ini, komoditas sawit merupakan penopang ekspor terbesar. Bahkan, melalui Merdeka Export pada Agustus lalu, Indonesia dapat melakukan ekspor ke 60 negara dan menghasilkan lebih dari Rp 7 triliun.

Petani sendiri memang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nusantara, sehingga pada tahun 24 September 1960 ditetapkanlah Hari Tani Nasional, yang kemudian diperingati setiap tahunnya. Di tengah peringatan ini, UMKM Dari Bumi muncul untuk menjadi jembatan antara hasil tani yang terkurasi, petani sebagai pelaku industri dan masyarakat Indonesia.

Inisiator Dari Bumi, Agung Prasetyo, bercerita bahwa Dari Bumi diawali dari perjalanan tim ke Temanggung dan mencoba rangkaian kopi dari kebun-kebun yang ada di sana. Setelah mencoba kopi-kopi tersebut, Agung merasakan betapa besarnya sebuah potensi sebuah hasil tani. Dengan mengobservasi proses dari hulu ke hilir, Agung akhirnya berpikir untuk mengkurasi hasil tani yang lebih banyak lagi.

"Sayang sekali jika potensi sebuah produk, hanya berhenti di kalangan tertentu. Produk yang baik, seharusnya jadi milik semua orang. Kami juga ingin memaksimalkan potensi team internal serta network yang kami miliki, untuk menyebarkan potensi hasil bumi ini ke arah makanan dan minuman yang eksperimental," katanya.

Dari Bumi menghadirkan hasil tani yang terkurasi dari petani-petani di pelosok Indonesia, mulai dari beras pandan, beras merah, madu kelengkeng, madu akasia, daun kelor, bunga telang, rosella ungu hingga kopi temanggung yang termashyur.

Dari Bumi pun bekerja sama dengan petani dari berbagai daerah seperti Sumenep, Sine, Pohkumbang, Tugu Papak hingga Lebak.

"Ke depan, Dari Bumi harapannya menjadi rujukan masyarakat atas produk-produk hasil tani yang terkurasi atau bahkan menjadi gerakan-gerakan inisiatif yang mendukung petani Indonesia untuk lebih berdaya, lebih sejahtera. "Kelak hasil-hasil tani yang beragam harus mudah di temui di manapun, jadi gaya hidup dalam bentuk-bentuk yang unik", katanya.

(fdl/fdl)