Cerita Bu Subur, Bangun Usaha Tempe Sampai Bisa Kuliahkan 3 Putrinya

Yudistira Imandiar - detikFinance
Senin, 27 Sep 2021 12:17 WIB
tempe
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Tempe menjadi sumber kehidupan bagi Subur, warga Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah beserta keluarga. Sudah berpuluh tahun, Subur menjalankan usaha produksi tempe.

Subur dibantu suami dan anaknya memproduksi tempe di rumahnya setiap dua hari sekali. Proses pengolahannya menggunakan cara tradisional. Bahkan, untuk merebus kedelai Subur masih menggunakan tungku batu.

Ia menjelaskan produksi tempe memakan waktu yang cukup panjang. Butuh sekitar 3 hari sampai tempe siap dipasarkan.

tempetempe Foto: Agung Pambudhy

Berikutnya kedelai di rebus kurang lebih selama 1 jam sampai kedelai benar-benar lunak. Setelah itu kedelai dikeringkan di suhu ruangan. Jika sudah benar-benar kering barulah kedelai ditaburi ragi untuk proses fermentasi dan dimasukkan ke plastik dan didiamkan sekitar 3 hari sampai menjadi tempe berkualitas baik.Proses pengolahan tempe dimulai dari membersihkan kacang kedelai dengan air mengalir.

Dalam proses ini, biji kedelai yang mengapung di air akan dibuang karena kualitasnya tidak bagus. Subur mengatakan kedelai harus benar-benar bersih sebelum diolah agar tempe bisa tahan lama.

Subur biasanya menjual tempe-tempenya ke pedagang di pasar dekat rumah. Pasar hanya buka di hari Senin, Kamis, dan Sabtu.

"Sekali kirim itu sekitar 2 kwintal. Seminggu tiga kali kirim ke pasar pakai motor (yang sudah dilengkapi) box untuk membawa tempe," jelas Subur.

Ia menguraikan dari 2 kwintal muatan berisi 1.000 potong tempe. Subur menjualnya seharga Rp 1.500 per potong ke pedagang. Dalam sepekan, rata-rata Subur memperoleh omzet sekitar Rp 4,5 juta dari 3 kali pengiriman tempe ke pasar. Dalam sebulan, setidaknya ia memperoleh pendapatan kotor kisaran Rp 18 juta.

Dari usaha tempenya ini, Subur dan suami mampu menghidupi keluarga sekaligus menyekolahkan tiga putrinya sampai ke bangku kuliah. Putri pertama Subur mengambil Jurusan Keguruan, sedangkan putri kedua menempuh Jurusan Pendidikan Bimbingan Konseling (BK), dan si bungsu memilih Jurusan Hukum di IAIN Metro Lampung. Subur menyatakan sejak dulu dirinya bertekad sesusah apapun kondisi ekonomi, anak-anaknya harus sekolah tinggi.

"Aku dulu nggak lulus SD, namanya kebutuhan orang zaman dulu. Pokoknya aku besok (di masa depan) kalau punya suami dan anak, walaupun hidupku kayak apa. anakku harus sekolah lanjutan. Alhamdulillah kesampean anakku tiga-tiganya kuliah," seru Subur.

Subur mengungkapkan usaha tempenya dapat berkembang berkat fasilitas permodalan dari PNM. Awalnya, Subur mengambil fasilitas permodalan Mekaar dari PNM sebesar Rp 2 juta pada 2018. Dari situ, ia bisa menambah modal usaha hingga bisnisnya lumayan berkembang.

"Pertama tahu PNM ada yang sosialisasi, dulu ambil di PNM karena modal untuk bisnis tempe ini sampai lanjut sekarang. Awalnya minjem dulu baru Rp 2 juta, terus naik Rp 3 juta, lalu naik terus sampai sekarang Mekaar+ (pinjaman) Rp 7 juta. Itulah modal sampai sekarang," tutur Subur.

Selain itu, Subur baru-baru ini juga mendapatkan suntikan modal tambahan dari KUR Super Mikro BRI. Ia mempergunakan kredit tersebut untuk menambahkan modal sekaligus memenuhi perlengkapan produksi tempe.

"Sebelumnnya aku nggak tahu apa-apa soal KUR, lalu tahu dari program pasar di Desa Terbanggi Subing. Aku itu nggak pernah gini-gini (ngambil pinjaman/ke bank) karena udah trauma dari dulu karena takut ke bank. Tapi sekarang ini ya ambil. Akhirnya coba dan ternyata ringan, sangat membantu," ungkap Subur.

Sebagai informasi, detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

(mul/ara)