Ada Rush Money, Perbankan di Afghanistan Lumpuh

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 28 Sep 2021 08:42 WIB
Warga berdatangan untuk melakukan penarikan uang tunai usai bank di Afghanistan kembali beroperasi. Demi ambil uang, warga rela antre berjam-jam.
Foto: AP Photo/Khwaja Tawfiq Sediqi
Jakarta -

Krisis yang terjadi di Afghanistan membuat sistem keuangan terganggu. Hal ini turut mempengaruhi kondisi perbankan nasional di negara tersebut.

Kepala Eksekutif Islamic Bank of Afghanistan Syed Moosa Kaleem Al-Falahi mengungkapkan kondisi ini terjadi karena banyak nasabah panik dan melakukan rush money.

"Ada penarikan dana besar-besaran sekarang. Tapi banyak bank yang tidak beroperasi," kata dia dikutip dari BBC, Selasa (28/9/2021).

Sebelum Taliban menguasai, kondisi perekonomian di Afghanistan memang sudah tidak baik-baik saja, bahkan sudah goyah. Afghanistan memang sebuah negara yang pembiayaan negaranya bergantung pada asing.

Sebanyak 40% produk domestik bruto (PDB) Afghanistan berasal dari bantuan internasional.

Apalagi setelah banyak aset-aset yang dibekukan oleh Bank Dunia dan IMF. Taliban berupaya keras untuk mencari sumber dana lain dari banyak pihak.

Al Falahi menyebut, bahkan Taliban sedang menjajaki bantuan dengan China, Rusia dan sejumlah negara lain.

Apalagi China juga telah mengutarakan keinginannya untuk membantu Afghanistan dan bekerja sama dengan Taliban.

Dalam sebuah editorial di Global Times disebutkan ada potensi kerja sama yang besar antara China dan Taliban untuk pembangunan Afghanistan. China dipastikan akan berkontribusi besar untuk pembangunan tersebut.

Al Falahi menyebutkan, namun saat ini Taliban dituntut untuk memperbaiki kondisi perekonomian Afghanistan saat ini. Banyak masalah yang terjadi seperti inflasi yang melonjak, mata uang yang anjlok hingga banyaknya pengangguran dan kemiskinan.

Simak juga video 'Krisis Keuangan Bikin Warga Afghanistan Tak Bisa Beli Obat':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/zlf)