Banyak Adegan Keras, Film Ultraman Hingga Conan Kena Semprit 'KPI' China

Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 28 Sep 2021 10:04 WIB
Komik Marvel Ultraman
Foto: Istimewa
Jakarta -

Belum lama ini, pemerintah China kembali membuat sejumlah aturan/larangan baru atas industri hiburan di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Melansir dari CNN, Selasa (28/9/2021), Administrasi Radio dan Televisi Nasional selaku otoritas penyiaran negara itu, mengumumkan Jumat malam kemarin bahwa mereka akan melarang kartun dan acara TV lainnya yang terutama diproduksi untuk anak-anak yang mengandung penyebutan kekerasan, darah, vulgar atau pornografi.

"Saluran TV harus dengan tegas menolak plot buruk, dan sebaliknya hanya menyiarkan kartun yang sangat baik dengan konten yang sehat dan mempromosikan kebenaran, kebaikan dan keindahan," kata pihak berwenang dalam sebuah pernyataan di situsnya.

Peraturan baru ini berlaku untuk semua kartun yang disiarkan di televisi serta yang disiarkan secara online. Meskipun pihak berwenang tidak menyebutkan secara spesifik acara tertentu, banyak jaringan TV di China yang langsung dengan segera menjalankan aturan tersebut.

Dengan adanya aturan baru ini, "Ultraman Tiga", serial Jepang yang sangat populer tentang seorang pahlawan super yang melindungi bumi dari monster dan alien, telah dihapus dari platform streaming online pada hari Jumat kemarin. Berdasarkan penjelasan dari Tabloid yang dikelola pemerintah China, Global Times, mengatakan acara tersebut dihapus karena adanya "plot kekerasan" termasuk adegan perkelahian dan ledakan.

Hal ini tidak hanya menimpa serial Ultraman Tiga, tapi juga sejumlah serial TV dan kartun. Pada bulan April, pihak berwenang di provinsi Jiangsu merilis daftar 21 kartun dan drama televisi yang dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Daftar tersebut termasuk acara terkenal "Peppa Pig," serial kartun Inggris; "My Little Pony," sebuah kartun Amerika; dan "Case Closed," juga dikenal sebagai "Detective Conan," serial manga dan anime Jepang yang sukses besar.

Tentu penghapusan acara tersebut memicu kemarahan dan kekecewaan yang meluas dari sejumlah penggemarnya di China. Topik tersebut menjadi tren di platform media sosial Tiongkok, Weibo.

"Begitu banyak orang suka menonton animasi Tiga ketika mereka masih muda. Ini tidak hanya (mengungkapkan) kepercayaan pada 'cahaya', tetapi juga kenangan masa kecil . Selain itu, itu tidak membawa dampak negatif kepada orang-orang," tulis salah satu pengguna Weibo berkomentar di bawah posting yang sekarang dihapus.

Sejumlah pihak berpendapat bahwa aturan ini sangatlah diskriminatif. Sebab jika pihak berwenang memang benar-benar khawatir tentang penggambaran kekerasan atau vulgar, mereka mungkin juga akan melarang Empat Novel Klasik (empat karya sastra yang sangat berpengaruh yang ditulis antara abad ke-14 dan ke-18 dan dianggap sebagai mahakarya dalam sastra Tiongkok) karena memuat alur cerita perang saudara, korupsi pemerintah, eksekusi dan pembunuhan, dan romansa muda.

Namun pada kenyataannya hal ini tidak dilakukan oleh pihak otoritas China. Khususnya "Journey to the West" dan adaptasinya terus diajarkan kepada anak-anak dan dipelajari di sekolah-sekolah. Padahal menurut mereka "Journey to the West" juga banyak mengandung kekerasan.

Tapi protes mereka mungkin sia-sia. Pemerintah China telah mengisyaratkan tindakan keras terhadap kartun dan acara lainnya, termasuk banyak acara yang diproduksi di China untuk sementara waktu.

Aturan yang disahkan pada Jumat malam kemarin ini datang ketika otoritas China menekan berbagai sektor industri hiburan, mulai dari acara kompetisi "idol" hingga klub penggemar K-pop. Selama upaya pemerintah untuk membersihkan industri, sejumlah "selebriti nakal" dilaporkan telah masuk daftar hitam oleh otoritas penyiaran.

(zlf/zlf)