Blak-blakan Dirut Krakatau Steel

Jurus Silmy Karim Sulap Krakatau Steel dari Buntung Jadi Untung

Zulfi Suhendra, Deden Gunawan, Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 29 Sep 2021 07:00 WIB
Jakarta -

Cuma butuh dua tahun bagi Silmy Karim untuk menyulap PT Krakatau Steel (KS) dari perusahaan dengan arus kas minus lalu membukukan keuntungan ratusan miliar. Saat pertama kali diminta Menteri BUMN Rini Soemarno untuk memimpin KS pada November 2018, ia mengaku tak tahu bahwa utangnya lebih dari Rp 30 triliun.

"Kalau soal utang saya tidak terlalu kaget, yang masalah itu cash flow-nya negatif. Akibatnya bayar utang pakai utang, bayar gaji pakai utang. Awal masuk saya menghitung utang bertambah dari bunga saja tiap hari Rp 7 miliar," ungkap Silmy Karim kepada tim Blak-blakan detik.com, Senin (27/9/2021).

Untuk mengatasi hal itu merestrukturisasi utang menjadi hal utama yang ditempuhnya. Mantan Dirut Pindad itu mendatangi satu persatu direksi 10 bank pemberi kredit. Setelah melewati negosiasi yang alot, kesepakatan tercapai setahun kemudian, 12 Januari 2020.

Sambil menegosiasikan restrukturisasi utang, Silmy Karim berupaya mengefisienkan organisasi KS yang gemuk. Juga merampingkan 60 anak usaha, tak memperpanjang kontrak perusahaan alih daya, dan menawarkan percepatan pensiun kepada para pegawai.

Dari sisi pemasaran, Silmy Karim mengubah total budaya perusahaan yang masih terbiasa menunggu pembeli dengan mendatangi langsung mereka. Sekaligus memberikan pemahaman bahwa menggunakan produk KS yang sesuai dengan kebutuhan akan lebih efisien ketimbang impor.

"Sampai awal reformasi, Krakatau Steel memegang tata niaga (monopoli), jadi masih belagu sama customer. Sekarang saya ikut langsung ke lapangan mendatangi calon customer potensial," ujar Silmy.

Ketika banyak pabrik di luar negeri tutup karena pandemi, dia justru menjadikan peluang untuk membanjiri pasar dengan produk terbaik KS. Sebelum ada kebijakan bekerja dari rumah, Silmy Karim telah lebih dulu memberlakukannya. "Kalau soal kualitas, produk KS itu prima. Digunakan di Eropa dan Australia," ujarnya bangga.

Pada bagian lain, lelaki kelahiran 19 November 1974 mengungkapkan berbagai trik importir baja menghindari pajak. Ia juga menuturkan alasannya menimba ilmu di NATO dan US NAVAL, dan tiga aktivitas utama yang biasa dilakukannya untuk menjaga keseimbangan hidup. Selengkapnya, saksikan di program Blak-blakan detik.com.

(/zlf)