Gawat! Gara-gara Gede Utang, AS Diramal Kehabisan Uang Tunai Bulan Depan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 29 Sep 2021 08:50 WIB
Seorang petugas menata uang dollar di Jakarta, Senin (30/6/2014). Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap rupiah sehingga mendorong minat masyarakat untuk berburu mata uang negeri Paman Sam ini.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen menyebut jika pemerintah akan kehabisan uang tunai pada 18 Oktober mendatang. Uang ini digunakan untuk pembiayaan belanja pemerintah.

Debt ceiling alias batas utang menjadi masalah utama dalam kegegeran ini. Batas utang AS baru saja diakhiri penangguhannya.

Dana dari utang ini akan digunakan untuk membayar sejumlah besar kewajiban keuangan setiap bulan. Mulai dari pembayaran Jaminan Sosial, pembayaran asuransi kesehatan AS Medicare, dan program lain seperti pengembalian pajak.

Tapi hal ini bisa diatasi jika Kongres menyetujui rencana kenaikan pagu utang negara.

Dikutip dari CNN disebutkan, Yellen menyebutkan risiko gagal bayar utang ini masih membayangi. Bahkan ada potensi default yang disebut-sebut menjadi rencana besar.

Kondisi ini tentu saja akan mempengaruhi dan menggoyang ekonomi AS yang sebelumnya sudah menuju masa pemulihan.

Dalam sebuah surat, Yellen tidak bisa memastikan jika negara bisa memenuhi kewajiban untuk jutaan rakyat AS.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan telah memberikan pernyataan terkait jumlah uang tunai pada 18 Oktober. Hal ini karena AS mengeluarkan uang hampir US$ 50 miliar per hari. Bahkan dalam satu tahun terakhir lebih dari US$ 300 miliar.

"Perlu diingat, perkiraan uang tunai ini bisa habis lebih cepat atau lebih lambat. Semuanya bisa di luar perkiraan," kata dia dikutip dari CNN, Rabu (29/9/2021).

Pekan lalu AS memang disebut tidak bisa membayar kewajibannya. Seperti jaminan sosial, gaji militer hingga kredit pajak.

AS pernah hampir gagal membayar kewajibannya pada tahun 2011, kala itu pasar saham jeblok, S&P 500 merosot lebih dari 18%. Tapi bukan hanya pasar, operasi lain yang mengandalkan dana pemerintah juga akan melambat atau ditutup seluruhnya. Pembayaran angsuran kredit pajak anak bisa berhenti dikirim, bersamaan dengan itu layanan lain seperti kupon makanan gratis dan Jaminan Sosial juga akan berhenti dikirim.

Dikutip dari datalab.usaspending.gov, jumlah utang sebanyak US$ 26,95 triliun (data 2020) atau setara dengan Rp 384,03 ribu triliun (asumsi kurs Rp 14.250). Ini artinya utang AS nyaris Rp 400 ribu triliun.

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengungkapkan jika AS gagal bayar utang, maka ini akan menjadi bencana baru untuk perekonomian AS yang sedang dalam masa pemulihan.

Lihat juga video 'Sikap Jenderal AS Saat Nasihatnya soal Afghanistan Ditolak Biden':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/zlf)