Hasil Survei: COVID-19 Bikin Orang RI Menjauh dari Sejahtera

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 29 Sep 2021 21:45 WIB
Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Sosial DKI Jakarta membuka pendaftaran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara online. Bagaimana cara pendaftarannya?
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah melanda dunia selama hampir dua tahun. Imbasnya kini kesejahteraan masyarakat Indonesia terus turun di tengah wabah yang belum juga hilang.

Hasil survei Skor Kesejahteraan 360° Cigna yang dilakukan pada kuartal kedua 2021 menunjukkan, indeks persepsi kesejahteraan Indonesia 2021 tercatat sebesar 63,8 poin. Angka ini turun dari tahun 2019 yakni 65,4 poin dan 66,3 poin di 2020.

Meski begitu, persepsi kesejahteraan Indonesia pada tahun 2021 masih lebih baik dari negara tetangga seperti Singapura 59,2 dan Thailand 62,5.

President Director & CEO Cigna Indonesia, Phil Reynold mengatakan survei tersebut dilakukan secara rutin selama tujuh tahun terakhir.

"Pandemi global berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan, termasuk persepsi kesejahteraan. Kondisi pandemi itu memaksa seluruh dunia beradaptasi dengan tantangan yang ada," kata Reynold dalam keterangannya, Rabu (29/9/2021).

Direktur Pemasaran dan Kerja Sama Strategis Cigna Indonesia Akhiz Nasution menyebutkan persepsi kesejahteraan keuangan mengalami penurunan skor dari 59,1 pada tahun sebelumnya menjadi 53,6 pada tahun 2021.

Salah satu buktinya adalah anjloknya kemampuan membayar Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari 36 ke 24 atau turun 12 poin. Angka ini lebih rendah dari Thailand yang tidak mengalami penurunan.

Kemampuan menyiapkan biaya kesehatan dan pendidikan juga menurun. Demikian pula kemampuan finansial untuk dapat melakukan hobi atau liburan bersama keluarga anjlok delapan poin dari 26 menjadi 18.

"Khusus untuk kelompok usia menengah, mereka merasa tidak nyaman dengan keamanan keuangan jika terjadi hal darurat, seperti membiayai kesehatan yang tak terprediksi terutama bila terpapar COVID-19," kata Akhiz.

Hasil survei ini mengonfirmasi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, naiknya jumlah penduduk miskin setahun terakhir ini karena pandemi. BPS mencatat jumlah penduduk miskin secara nasional pada Maret 2021 sebanyak 27,54 juta jiwa atau naik 1,12 juta orang (meningkat 0,36%) dibanding Maret 2020.

Sementara, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebutkan, hingga Maret 2021, ada 29,4 juta orang terdampak pandemi COVID-19. Jumlah itu termasuk mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dirumahkan tanpa upah, hingga pengurangan jam kerja dan upah.

Demikian pula data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan selalu berada di atas tiga persen sejak Mei 2020, sedangkan nilai kredit perbankan mengalami penurunan. NPL perbankan pada April 2021 sebesar Rp 176,48 triliun atau 3,22% dari total kredit yang dikucurkan, yakni Rp 5.482,17 triliun.

(hal/eds)