Fakta-fakta Pemerintahan AS yang Terancam Tutup

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 30 Sep 2021 08:15 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Jumlah utang yang besar hingga pembahasan rancangan undang-undang (RUU) penangguhan utang yang besar membuat pemerintahan Amerika Serikat (AS) terancam tutup sementara atau shutdown.

Jika penutupan pemerintahan itu terjadi, diprediksi akan membuat ekonomi AS terganggu. Padahal, saat ini ekonomi negara adidaya tersebut sedang dalam masa pemulihan dari tekanan COVID-19.

Berikut fakta-fakta pemerintahan AS yang terancam tutup.

Kehabisan Uang Tunai

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengungkapkan jika pemerintah AS akan kehabisan uang tunai pada 18 Oktober mendatang. Pasalnya pemerintah terus-terusan menggelontorkan uang hingga US$ 50 miliar per hari. Bahkan dalam satu tahun terakhir demi menekan dampak pandemi pemerintah AS mengucurkan lebih dari US$ 300 miliar.

Bencana Besar

Chief Executive JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon mengungkapkan hal ini bisa menjadi bencana besar untuk ekonomi AS yang sedang pulih. Karena itu dibutuhkan langkah cepat demi menyelesaikan masalah tersebut.

Pimpinan Partai Demokrat di Senat AS Chuck Shumer mengungkapkan pihaknya akan mengambil langkah lanjutan untuk menghindari penutupan pemerintahan.

Potensi Gagal Bayar

Potensi gagal bayar utang AS membuat khawatir banyak pihak. Pasalnya jumlah utang AS saat ini sudah hampir Rp 400 triliun.

Dikutip dari datalab.usaspending.gov, jumlah utang AS saat ini sebanyak US$ 26,95 triliun (data 2020) atau setara dengan Rp 384,03 ribu triliun (asumsi kurs Rp 14.250). Ini artinya utang AS nyaris Rp 400 ribu triliun.

(kil/eds)