ADVERTISEMENT

AS Terbelit Utang Hampir Rp 400.000 T, RI Pikul Beban Utang Rp 6.600 T

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 30 Sep 2021 14:57 WIB
Infografis utang pemerintah bikin was-was
Ilustrasi beban utang/Foto: Infografis detikcom/Denny
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) tengah menjadi pusat perhatian dunia. Bukan karena negeri berjuluk Paman Sam itu melakukan sesuatu yang mencengangkan, tapi lantaran terbelit masalah utang bejibun.

Dikutip dari datalab.usaspending.gov, jumlah utang AS saat ini US$ 26,95 triliun (data 2020) atau sekitar Rp 386,38 ribu triliun. Ini artinya utang AS hampir Rp 400 ribu triliun

AS terancam gagal bayar utang pada Oktober. Bahkan, pemerintah AS blak-blakan akan kehabisan uang untuk pembayaran utang tersebut. Oleh karena itu pemerintah AS tengah mendorong kenaikan batas utang.

Debt ceiling alias batas utang menjadi masalah utama dalam kegegeran ini. Batas utang AS baru saja diakhiri penangguhannya.

Kondisi itu membuat khawatir seluruh penjuru dunia karena takut imbas yang ditimbulkan. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui juga ikut was-was terhadap hal tersebut.

"Beberapa persoalan seperti Evergrande yang ada di RRT atau terjadinya pembahasan di bidang fiskal seperti debt limit yang terjadi di Amerika Serikat, ini semuanya menjadi faktor yang harus kita terus waspadai, juga kemungkinan terjadinya tapering dari kebijakan moneter di Amerika Serikat," tuturnya dalam acara Forum Indonesia Bangkit, Rabu (29/9/2021).

Di sisi lain, persoalan utang bukan cuma dialami AS. Di negeri sendiri, Indonesia, juga memikul beban utang yang besar. Mengutip data APBN KiTa September 2021, posisi utang pemerintah per akhir Agustus 2021 berada di angka Rp6.625,43 triliun, dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,85%.

Berdasarkan data tersebut, posisi utang pemerintah pusat naik sebesar Rp55,27 triliun apabila dibandingkan posisi utang akhir Juli 2021. Penyebabnya adalah kenaikan utang dari Surat Berharga Negara Domestik sebesar Rp80,1 triliun sementara utang Surat Berharga Negara dalam valuta asing turun sebesar Rp 15,42 triliun. Hal yang sama terjadi juga untuk pinjaman, di mana terjadi penurunan sebesar Rp9,41 triliun.

Bagaimana respons Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terhadap beban utang tersebut? Langsung klik halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT