RI Butuh 1.000 Peti Kemas Per Minggu, Mendag Sudah Lakukan Apa?

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 30 Sep 2021 17:16 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pengusaha tanah air sedang menghadapi masalah kelangkaan kontainer atau peti kemas. Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengaku sudah mendiskusikan masalah itu dengan para pengusaha di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dia menjelaskan setelah dihitung ternyata para industri tanah air saat ini setidaknya kekurangan 1.000 kontainer per minggu untuk melakukan ekspor.

"Yang sudah kita hitung bersama Kadin kita memerlukan kira-kira 1.000 kontainer per minggunya. Ini sudah kita berikan terobosan," tuturnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/9/2021).

Kelangkaan ini terjadi ketika industri tanah air tengah kebanjiran order akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Beberapa industri yang tengah kebanjiran order antara lain industri elektronika, alas kaki, garmen dan furniture.

Setelah berdiskusi dengan Kadin, Lutfi mengaku sudah mengamankan pasokan kontainer untuk beberapa industri. Dia mencontohkan untuk industri furniture sudah ada komitmen suplai sekitar 800-1.000 kontainer per bulannya.

Lalu untuk industri makanan dan minuman telah ada komitmen sebanyak 3.500-3.800 kontainer per bulan. Diharapkan komitmen tersebut bisa memenuhi kelangkaan kontainer yang terjadi belakangan ini.

"Dari mana asal kontainernya? Dari mancanegara. Yang kita kerjakan sebenarnya mempertemukan orang yang datang membawa kontainer dan yang memerlukan kontainer. Salah satunya yang kita ketemukan importir. Contohnya misalnya dia bisa bawa 2.000 kontainer per bulannya kita ketemukan dengan industri furniture yang butuh kontainer 1.000 per bulannya, dan pengalaman kita setelah kita ketemukan pasti ketemu jalannya," terang Lutfi.

(das/hns)