3 Fakta Kontainer Langka Bikin Pengusaha Uring-uringan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 14 Sep 2021 19:00 WIB
Pelabuhan Bitung akan dijadikan sebagai international hub port (IHP) di kawasan timur Indonesia (KTI). Sejumlah pengerjakan terus dilakukan untuk menjadikan pelabuhan Bitung sebagai international hub port (IHP). Pengembangan Pelabuhan Samudera Bitung terus dilakukan, tahap pertama diestimasi rampung pada 2017 mendatang, meliputi perluasan lapangan tumpuk kontainer seluas 6,5 hektar dan perpanjangan dermaga sepanjang 500 meter. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pengusaha pusing tujuh keliling karena masalah logistik. Pasalnya, urusan kirim mengirim barang saat ini bermasalah karena langkanya kontainer.

Kekurangan dan kelangkaan kontainer telah membuat pedagang grosir kesulitan mengirimkan barangnya. Padahal, saat ini peningkatan permintaan mulai melejit.

Bikin pusing tujuh keliling, begini 3 fakta susahnya pengusaha imbas dari kontainer langka:

1. Kesulitan Dapat Suku Cadang

Jared Chaitowitz, pengusaha sepeda sewaan di Cape Town, Afrika Selatan, menjadi salah satu pengusaha yang ikut pusing gegara kontainer langka.

Dia memiliki armada sekitar 300 sepeda sewaan di ibu kota Afrika Selatan itu. Selama ini Jared mendapatkan pasokan suku cadang yang stabil, mulai dari pedal hingga bel, untuk membuatnya tetap berjalan. Tapi pasokan-pasokan itu bermasalah saat ini dan membuatnya stres.

"Orang yang memasok ban yang kami gunakan saja, awal tahun ini telah memberi kami masa tunggu lebih panjang. Dari awalnya 10 menjadi 12 bulan untuk ban baru. Sudah stres saya menghadapi ini," kata Jared dilansir dari BBC, Selasa (14/9/2021).

Jared menghadapi berbagai tantangan untuk menjaga bisnisnya tetap beroperasi. Selain ban yang terhambat, saat ini dia juga menunggu sebuah kontainer dengan 50 sepeda baru dari Prancis untuk ekspansi bisnisnya. Meskipun dia mengatakan dia tidak tahu kapan itu akan benar-benar tiba.

2. Kehilangan Orderan

Jared juga bercerita, dia harus kehilangan orderan karena kurangnya suku cadang dan komponen yang tak kunjung datang.

Bulan yang lalu, sebuah bisnis lokal memintanya untuk memperbaiki beberapa sepeda yang akan disumbangkan untuk amal. Sayangnya, pekerjaan itu ditunda karena Jared tidak bisa mendapatkan komponen yang dia butuhkan.

Dia bercerita memang bisa saja mengambil suku cadang dari toko-toko sepeda lokal. Bahkan, sering kali, mereka memberi harga cukup murah. Tapi masalahnya toko sepeda lokal kurang ideal dari sisi kualitas dan kuantitas produknya.

3. Kapal Menganggur, Biaya Kiriman Meroket

Saat ini, ratusan kapal kontainer mengantre untuk mendapatkan akses ke pelabuhan yang kelebihan muatan, sebagian besar di AS dan China.

Selain itu, di Eropa dan AS, telah terjadi kekurangan pengemudi truk yang membuat barang apapun sulit untuk dipindahkan. Apalagi untuk memindahkan peti kemas setelah tiba di pelabuhan.

Sudah menjadi hal yang umum saat ini bila mendengar cerita tentang kontainer yang dibiarkan menganggur di dermaga selama berbulan-bulan. Plus, harga untuk kontainer yang meroket gila-gilaan. Mengirim satu kontainer 40 kaki dari Asia ke Eropa saja membutuhkan biaya lebih dari 10 kali lipat harga tahun lalu.

Baru-baru ini, beberapa perusahaan besar bahkan telah memutuskan untuk membeli peti kemas dan mencarter kapal mereka sendiri secara mandiri sebagai tanggapan atas sulitnya mengirim barang. Di antaranya, ada raksasa AS Walmart dan Home Depot, dan merek furnitur Swedia Ikea.

(hal/eds)