Jokowi: Kebutuhan Jagung untuk Pangan dan Ternak Perlu Tambahan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 04 Okt 2021 10:13 WIB

Dalam catatan detikcom, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan menjelaskan, secara tahunan di 2021 memang ada potensi stok jagung mengalami surplus. Namun dalam bulan ke bulan ada saat di mana stok mengalami defisit.

"Secara definitif dari angka yang disampaikan bahwa mulai April 2021, neraca jagung itu mengalami defisit, ini berarti sejalan dengan harga yang semakin tinggi," kata Oke dalam sebuah webinar, Kamis (30/9/2021).

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan yang diperoleh Kemendag, mulai terjadi defisit stok jagung pada Mei 242.214 ton, Juni 291.573 ton, Juli 296.116 ton, Agustus 188.524 ton, September 295.094 ton.

Berdasarkan data SIJAGUNG Kementan dan Badan Ketahanan Pangan Kementan yang diolah Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, harga jagung per kg pada Maret Rp 4.772, April Rp 5.392, Mei Rp 5,757. Itu sudah di atas harga acuan yang ditetapkan Rp 4.500.

"Itu terjadi defisit, ini dibuktikan dengan harga yang meningkat. Memang selain itu pengaruhnya adalah harga jagung internasional juga (naik)," lanjut Oke.

Dari laporan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Oke menjelaskan stok yang mereka miliki juga berkurang. Jika GPMT normalnya bisa mengamankan stok untuk 60 hari, kini hanya 44 hari.

"Artinya ini ada masalah dengan stoknya juga selain harganya yang tinggi, apakah tadi GPMT ini tidak mau stok karena harga yang tinggi atau apa, tapi pada kenyataannya GPMT menyatakan 44 hari yang tersedia," tambah Oke.

Sementara Kementan berusaha membuktikan bahwa stok jagung aman. Rabu 29 September yang lalu Kementan menggelar Panen Raya Jagung Nusantara di Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Acara ini dilakukan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk menunjukkan stok jagung Indonesia saat ini aman.

Syahrul bahkan memperkirakan stok jagung tahun ini mengalami surplus. Menurut data yang disampaikan Kementan, panen jagung nasional berlangsung hingga akhir tahun 2021, di mana perkiraan luas panen September ini 299.059 hektare, Oktober 230.157 hektare, November 207.264 hektare dan Desember seluas 197.265 hektare dengan produksi masing-masing 1,21 juta ton, 916.759 ton, 1 juta ton dan 881.787 ton.

"Panen hari ini membuktikan jagung ada di mana-mana. Produksi jagung nasional kita tahun 2021 ini diperkirakan overstock 2,85 juta ton," papar Syahrul saat panen serempak di seluruh wilayah Indonesia secara langsung dan virtual.

Lebih lanjut dia memaparkan, panen jagung nusantara ini berlangsung secara serempak di 130 kabupaten berlokasi di 537 lahan jagung. Berdasarkan data prognosa Kementan dan BPS, luas panen jagung nasional Januari-Desember 2021 seluas 4,15 juta hektare, produksi bersihnya sebesar 15,79 juta ton dengan kadar air 14%.

Kebutuhan jagung setahun untuk pakan, konsumsi dan industri pangan totalnya 14,37 juta ton sehingga dengan menambahkan stok akhir Desember 2020 (carry over) sebesar 1,43 juta ton, diperoleh stok jagung 2021 sebanyak 2,85 juta ton.

"Terjadinya keluhan harga yang tinggi itu dikarenakan adanya delay time distribusi jagung ke produsen pakan ternak. Nanti akan kita perbaiki agar distribusi jagung ke pabrik dan distribusi pakan ternak tidak terjadi delay. Sehingga tidak ada lagi keluhan," tegas Syahrul.


(hal/eds)