3 Fakta Runtuhnya Ekonomi Myanmar

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 06 Okt 2021 21:00 WIB
Penampakan Warga Myanmar Antre Berjam-jam di ATM
Ilustrasi/Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Ekonomi Myanmar berada di ambang kehancuran karena ketidakstabilan politik dan pembatasan akibat pandemi COVID-19. Akibatnya, warga kena imbasnya.

Bank Dunia (World Bank) memperkirakan bahwa ekonomi Myanmar akan menyusut sebesar 18% tahun ini dan tingkat kemiskinan kemungkinan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2022.

Berikut 3 faktanya:

1. Warga Kelaparan

Ma Wai, 42 tahun, dari Monywa di wilayah tengah Myanmar, awalnya bekerja sebagai tukang bersih-bersih dan pembantu rumah tangga sebuah keluarga kaya. Sayangnya pandemi COVID-19 membuat majikannya meminta agar dirinya tidak bekerja lagi. Suaminya, yang dulunya seorang pelukis juga kini menganggur.

Ma Wai dan suaminya sudah menganggur selama tujuh bulan dan saat ini mengandalkan bantuan makanan untuk menghidupi empat anaknya dan ibunya yang tinggal bersama mereka.

"Kadang-kadang, kami hanya makan sekali sehari. Kami belum pernah mengalami kesulitan seperti sekarang," katanya dikutip dari BBC, Rabu (6/10/2021).

2. Harga Kebutuhan Pokok Naik

Menurut World Food Program, harga beras telah meningkat lebih dari 18% dan minyak nabati telah meningkat dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir.

3. Penarikan Uang Tunai Dibatasi

Sejak Maret lalu, bank sentral Myanmar telah membatasi penarikan uang tunai maksimal 2 juta Kyat (Rp 15,20 juta) seminggu dan 20 juta Kyat (Rp 152,4 juta) bagi sebagian besar perusahaan.

Warga Yangon, Ma Khine bercerita harus bangun pagi-pagi untuk menunggu antrean panjang di mesin ATM dengan harapan bisa menarik sejumlah uang. Bank KBZ di Myanmar Plaza tempat tujuannya, buka pukul enam pagi dan hanya mengeluarkan token terbatas untuk sejumlah pelanggan.

"Hanya tiga dari sepuluh mesin yang bekerja pada satu waktu, dan bank tidak akan menambahnya lagi," kata Ma Khine.

Bank-bank swasta juga membatasi jumlah uang yang dapat diambil. Bank CB di wilayah Delta Irrawaddy, misalnya, mengizinkan para pelanggan untuk menarik hanya 500 ribu Kyat (Rp 3,8 juta) dalam dua minggu.

"Bisnis kecil-kecilan sangat terpukul karena batasan ini," jelas Manajer Cabang Bank Swasta, Tun Tun.

Tonton Juga Video Tips dan Trik dari d'Mentor:

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)