Menkes Ungkap 3 Fakta Baru Vaksin Booster

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 20:00 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin
Menkes Ungkap 3 Fakta Baru Vaksin Booster
Jakarta -

Vaksin booster atau dosis ketiga vaksin COVID-19 dinilai dapat meningkatkan ketahanan tubuh manusia dari virus COVID-19. Saat ini vaksin booster memang masih terbatas.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan vaksin booster belum bisa diberikan di Indonesia. Berikut ini 3 faktanya.

1. Secara Etis Belum Mungkin

Budi mengatakan secara klinis vaksin ini memang dianjurkan, dia mengatakan vaksin booster memang terbukti meningkatkan antibodi dari virus COVID-19. Namun untuk saat ini di Indonesia secara etis vaksin booster belum bisa dilakukan.

Pasalnya, masih banyak orang yang belum mendapatkan jatah vaksin, bahkan vaksin pertama pun ada yang belum mendapatkan. Dia bilang dari 200 jutaan masyarakat yang ditargetkan untuk divaksinasi, hingga akhir minggu ini mungkin baru setengahnya yang tercapai.

"Banyak yang bertanya ke saya, pak, vaksin booster butuh apa nggak? Itu memang clinically right, cuma saya kasih kalimat kedua, secara etika mungkin sekarang wrong," ungkap Budi dalam acara Indonesia Knowledge Forum 2021, Kamis (7/10/2021).

"Jumlah vaksin aja kita terbatas, banyak yang belum dapat akses vaksin, vaksin pertama saja masih ada yang belum," tambahnya.

2. Mau Cepat? Suntik di Amerika

Budi berkelakar, kalau memang tidak sabar untuk mendapatkan vaksin booster, bagi yang mampu bisa suntik langsung ke Amerika Serikat (AS). Tak perlu juga menggunakan jatah vaksin di dalam negeri untuk vaksin booster.

"Jadi, kalau mau (vaksin booster) ya pergi aja ke Amerika, suntik aja ke sana, karena dia kan nggak pakai jatah yang di sini. Kan kasihan masih ada yang belum dapat kan, mereka mungkin nggak seberuntung kita kan, nggak sekaya kita juga mungkin," ungkap Budi.

3. Risiko Pengadaan Vaksin Booster

Dia mengatakan saat ini pemerintah tak mungkin mengorbankan stok yang ada untuk vaksin booster bagi masyarakat. Seperti diketahui sejauh ini hanya tenaga kesehatan saja yang baru diizinkan mendapat vaksin booster.

Bila memaksa untuk memberikan vaksin booster secara luas, pemerintah bagaikan mengabaikan kesempatan bagi orang yang belum mendapatkan vaksin.

(hal/fdl)