Jangan Kaget! Kirim Barang ke China Lebih Murah daripada ke Indonesia Timur

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 08 Okt 2021 12:27 WIB
Kesibukan pelayanan bongkar muat di dermaga peti kemas ekspor impor (ocean going) milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II dipastikan tetap berjalan maksimal di tengah persiapan menyambut kunjungan Ratu Kerajaan Denmark Margrethe II bersama suaminya, Prince Henrik , Jakarta, Kamis (15/10/2015). Ratu Margrethe II dan Price Henrik akan berkunjung ke lokasi ini pada pekan depan, Kamis (22/10). Seperti diketahui Maersk Line, salah satu perusahaan pelayaran terbesar di dunia asal Denmark saat ini menjadi pengguna utama Pelabuhan yang dikelola Pelindo II. Kehadiran Ratu Denmark menunjukkan kepercayaan negara asing terhadap kualitas pelayanan pelabuhan di Indonesia. Dalam satu tahun kapasitas pelayanan bongkar muat Pelindo II mencapai 7,5 juta twenty-foot equivalent units (TEUs). Agung Pambudhy/Detikcom
Ilustrasi/Foto: agung pambudhy
Jakarta -

Biaya kirim barang domestik dinilai sangat mahal, apalagi ke wilayah terpencil. Misalnya, saja dari Jakarta ke wilayah timur Indonesia.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, hal itu terjadi karena kurangnya pembenahan pada transportasi laut di Indonesia. Angkutan laut nasional jumlahnya terlalu sedikit.

Dia bilang transportasi laut menjadi pekerjaan rumah besar untuk ditingkatkan oleh pemerintah. Salah satunya dalam rangka membentuk rantai pasok yang baik, hal ini dinilai dapat membentuk keseimbangan baru harga pengiriman barang.

"Transportasi laut mungkin harus jadi PR untuk ditingkatkan ke depan. Distribusi barang domestik memang lebih mahal," ungkap Destry dalam webinar yang diadakan Kementerian Perhubungan, Jumat (8/10/2021).

Saking mahalnya biaya pengiriman barang secara lokal, Destry menyinggung biaya kirim barang dari Jakarta ke daerah timur lebih mahal daripada biaya ekspor Jakarta ke China.

"Misalnya eksportir ekspor dari Jakarta ke China. Itu malah biayanya lebih murah daripada kirim dari Jakarta ke Indonesia timur," kata Destry.

Hal ini juga disoroti oleh ekonom senior Faisal Basri, dia mengatakan kian hari angkutan laut di Indonesia semakin sedikit jumlahnya. Padahal angkutan laut sangat dibutuhkan untuk distribusi barang khususnya ke daerah-daerah terpencil.

Faisal Basri menilai sedikitnya jumlah angkutan laut membuat biaya kirim barang menjadi mahal.

"Kita keteteran di barangnya, manusia makin mobile, barangnya malah masih mahal diangkut lewat laut," kata Faisal Basri dalam acara yang sama.

Dalam paparannya, angkutan laut jumlahnya turun selama satu dekade. Di tahun 2010 kapasitas angkutan laut di Indonesia mencapai 8,96% sementara di tahun 2020 menjadi 6,94% saja dari total transportasi di Indonesia di semua moda.

Lihat juga video 'Gerak Kementan Tingkatkan Ekspor Tanaman Hias':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/ara)