Kolom

Labirin Legislasi Kratom

Ade Jun Panjaitan - detikFinance
Senin, 11 Okt 2021 15:10 WIB
Petani Kratom
Ilustrasi Petani Kratom. Foto: Yudistira Imandiar
Jakarta -

Dunia penggiat anti peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika di Indonesia belakangan punya tantangan baru. Di saat seluruh elemen di republik ini masih berjibaku untuk keluar dari kubangan status darurat narkoba, muncul isu kratom sebagai lakon baru dengan segudang potensi polemik yang justru bisa memperkeruh kubangan tersebut.

Seyogyanya, tanaman yang masih satu famili dengan kopi ini sedang melakoni masa karantina legislasi hingga tahun 2024. Kebijakan tersebut diambil oleh seluruh perwakilan kementerian dan instansi/lembaga (K/L) yang datang rapat di Kantor Staf Presiden (KSP) pada Februari 2020 lalu.

Rapat menyepakati kratom belum bisa masuk daftar golongan narkotika, karena belum mengantongi kajian lengkap mulai dari perspektif ekologi, tata niaga, lingkungan hidup dan tanaman pengganti bila sudah dilarang.

Namun, "Permasalahan kratom harus mulai disosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya zat kratomnya," tegas Muldoko, Kepala KSP, seperti dikutip laman Badan Narkotika Nasional (BNN).

Alih-alih segendang sepenarian mengikuti hasil rapat tersebut, irama berbeda justru terdengar dari Kalimantan Barat, yang dikenal 'surganya' ketum, cakap orang Melayu untuk kratom. Pada tanggal 28 September 2021 lalu, berkumandang berita ekspor resmi 500 kilogram tepung kratom menuju Belanda, terbang menggunakan maskapai Garuda Indonesia dari Bandara Supadio, Kalimantan Barat.

Kantor Wilayah Bea dan Cukai Wilayah Kalimantan Bagian Barat (Kalbagbar) dan Dinas Perdagangan, Perindustrian dan ESDM Pemprov Kalbar, menjadi para wali resmi helatan tersebut.

"Selama ini pengusaha kratom dari Kalbar melakukan ekspor dari Surabaya, Semarang, atau Jakarta. Padahal dari Kalbar juga boleh, dan bisa. Tidak apa-apa," tegas Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Kalbagbar Harry Budi Wicaksono seperti dikutip Antara.

Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Kalbagbar, Agung Saptono menambahkan, dengan adanya ekspor langsung dari Kalimantan Barat dapat mengurangi biaya perusahaan, menaikan devisa negara dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Lanjut ke halaman berikutnya



Simak Video "Duh! Napi di Gowa Kendalikan Peredaran Sabu di Luar Lapas"
[Gambas:Video 20detik]