Warga Thailand Tolak Akses Turis Asing Dibuka, Ada Apa Nih?

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 17 Okt 2021 22:02 WIB
Ratusan mobil-motor memadati jalanan Bangkok. Kegiatan itu merupakan bagian dari aksi unjuk rasa warga yang mengkritik penanganan Corona di Thailand.
Foto: Getty Images
Jakarta -

Mayoritas masyarakat Thailand menolak rencana pembukaan kembali kunjungan turis asing ke negara itu. Ini terlihat dari sebuah jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Universitas Suan Dusit Rajabhat.

Dilansir dari Straits Times, Minggu (17/10/2021), mereka yang menolak menilai turis dari negara lain dapat membawa infeksi COVID-19 baru. Belum banyak jumlah warga yang divaksin juga menjadi alasan lain penolakan tersebut.

Survei itu menanyakan 1.392 responden. Mereka ditanya soal rencana Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha memperbolehkan turis yang telah divaksinasi penuh untuk masuk Thailand per 1 November mendatang.

Hasilnya 59,68% responden menolak rencana tersebut. Bukan waktu yang tepat membuka kembali Thailand untuk turis asing juga diungkapkan oleh 60,10% responden.

Para responden mengatakan Thailand bisa membuka pintunya bagi warga asing setelah lebih dari 70% populasinya telah divaksinasi. Cakupan vaksinasi di Thailand memang belum terlalu tinggi. Baru Bangkok yang mencatatkan lebih dari 65% warganya telah divaksin penuh atau hanya 35% dari total nasional.

Meski begitu, tak semua responden menolak rencana pemerintah. Mereka yang merupakan pemilik bisnis dan karyawan ingin Thailand bisa kembali dibuka.

Thailand bersiap membuka kembali negaranya untuk turis asing mulai 1 November 2021. Pusat Penelitian Kasikom mengungkapkan ini memberi dorongan pada industri pariwisata dan pertumbuhan positif ekonomi yang diharapkan terjadi tahun depan, dengan catatan situasi COVID-19 di Thailand dapat dikelola dengan baik.

Lembaga itu memprediksi warga asing yang datang ke Thailand harus naik 64%. Sebab 1 November berbarengan dengan high season di negara tersebut.

Diperkirakan total 180 ribu turis asing yang datang ke Thailand. Jumlah itu 30 ribu lebih banyak dari perkiraan sebelumnya, yang akan menghasilkan pendapatan 13,5 miliar baht atau setara Rp 5,6 triliun (kurs Rp 421).

(aid/dna)