Unik! Pulau Ini Pernah Pakai Batu Raksasa buat Mata Uang

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 18 Okt 2021 09:48 WIB
Di hari kedua ekskavasi Situs Candi Patakan, BPCB Trowulan Jatim mendapat sejumlah temuan lepas. Temuan lepas tersebut di antaranya koin uang kepeng dan pasak batu.
Unik! Pulau Ini Pernah Pakai Batu Raksasa buat Mata Uang
Jakarta -

Tahukah kamu kalau di sebuah pulau, batu pernah digunakan sebagai alat transaksi alias mata uang? Di sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik bernama Yap, mata uang kuno berupa cakram batu raksasa pernah digunakan sebagai alat transaksi.

Melansir dari The Sun, Senin (18/10/2021), cakram batu raksasa tersebut disebut rai, dan digunakan sebagai simbol bentuk uang oleh penduduk pulau Yape selama ratusan tahun dan kadang-kadang masih digunakan hingga hari ini untuk tujuan upacara adat atau seremonial.

Arkeolog Scott Fitzpatrick dari University of Oregon mengatakan kalau mata uang ini merupakan salah satu koin paling menarik di dunia. Sebab, untuk menentukan nominal yang terkandung di batu bisa dilihat dari dua faktor, yakni ukuran dan cerita di balik pengangkutan batu tersebut.

Dengan kata lain, makin besar ukuran rai maka makin besar juga nilainya. Selain itu faktor lain yang bisa membuat mata uang ini semakin tinggi adalah cerita di balik pengangkutan rai itu sendiri.

Sebab sebenarnya Batu Rai bukan asli dari Pulau Yap, melainkan digali dari tambang di Palau Palau, 400 kilometer dari Yap. Karena dibawa dari tempat yang jauh, penduduk setempat pun sangat menghargai mata uangnya. Jadi semakin sulit proses pengangkutan rai dilakukan, maka semakin tinggi nilai rai tersebut.

"(Rai) diukir dari tambang batu kapur yang terletak di pulau Palau sekitar 250 mil (400 km) dari Yap, itu adalah objek terbesar yang pernah bergerak di atas Samudra Pasifik terbuka selama era kontak pra-Eropa," jelas Fitzpatrick.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Fitzpatrick bersama dengan rekannya Stephen McKeon, mereka menyatakan kalau uang batu rai sangat berharga tetapi mengingat ukuran, berat, dan kerapuhannya, uang itu hampir tidak pernah dipindahkan di sekitar pulau.

"Sebagai akibatnya, jika rai diberikan atau ditukar, pemilik baru disk mungkin tidak tinggal di dekat itu. Untuk memastikan bahwa kepemilikan diketahui dan tidak dapat disangkal, 'buku besar' lisan digunakan dalam komunitas untuk menjaga transparansi dan keamanan," jelasnya

'Buku besar' lisan ini rupanya diturunkan dari generasi ke generasi orang Yape dan membantu masyarakat untuk memahami siapa pemilik rai yang sah sehingga dapat digunakan untuk hal-hal seperti hadiah pernikahan, bujukan politik, atau bahkan terkadang membayar uang tebusan.

(fdl/fdl)