Mantul! Kerai Bambu Made in Grobogan Laris Manis di Portugal

ADVERTISEMENT

Mantul! Kerai Bambu Made in Grobogan Laris Manis di Portugal

Inkana Izatifiqa R Putri - detikFinance
Senin, 18 Okt 2021 14:13 WIB
Di tangan perajin asal Kabupaten Grobogan ini bambu disulap menjadi kerajinan kerai. Tak tanggung-tanggung, kerai bambu ini bahkan sudah tembus pasar Portugal.
Foto: Andhika Prasetia/Detikcom
Grobogan -

Bambu menjadi salah satu tanaman yang kerap dijadikan bahan utama kerajinan tangan. Di Desa Payaman Nampu, Kabupaten Grobogan, masyarakat setempat mengolah bambu menjadi kerajinan tangan kerai bambu.

Menariknya, kerajinan tangan ini telah dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang. Ketua Kelompok Perajin Kerai Bambu, Darto bercerita sejak kecil dirinya telah ikut menggeluti bisnis kerai bambu di desanya. Bahkan, ia mengatakan dulunya bambu perlu diambil sendiri dengan menggunakan sepeda ontel.

"Saya di sini meneruskan peninggalan nenek moyang kerajinan kerai bambu. Kalau saya sejak dari kecil dari remaja sudah ikut bikin kerai. Sudah turun temurun sejak nenek moyang kita buat kerai," ujarnya kepada detikcom.

"Kalau dulu, ngambil bambu itu pakai sepeda ontel, motong bambu 10 batang, terus dibilah-bilah lagi. Sekarang beli bambu sudah bisa pakai pakai truk. Jadi satu truk itu berapa batang dihitung," ungkapnya.

Soal proses pembuatan kerai, Darto mengungkapkan dirinya hampir tak menemui kendala. Ia pun mengaku bisa menyelesaikan 1-2 buah dalam satu hari.

"Kalau proses pembuatan kerai itu potong dulu, setelah itu dibersihkan cabang-cabangnya, terus dibelah. Lalu diirak atau ditipiskan, setelah itu baru dihaluskan dan dianyam. Prosesnya mudah. Kalau satu hari jadi berapa tergantung ukuran, kalau pendek ya 1 orang bisa bikin 2 dalam sehari," ungkapnya.

Di tangan perajin asal Kabupaten Grobogan ini bambu disulap menjadi kerajinan kerai. Tak tanggung-tanggung, kerai bambu ini bahkan sudah tembus pasar Portugal.Di tangan perajin asal Kabupaten Grobogan ini bambu disulap menjadi kerajinan kerai. Tak tanggung-tanggung, kerai bambu ini bahkan sudah tembus pasar Portugal. Foto: Andhika Prasetia/Detikcom

Beda ukuran kerai, beda pula lama pembuatan dan harganya. Semakin panjang atau lebar kerai, maka semakin mahal pula harganya. Adapun kerai ukuran 1 x 2 meter biasanya dihargai Rp 40 ribu, kerai berukuran 1,5 x 2 meter dijual seharga Rp 60 ribu. Sedangkan kerai berukuran 2,5 x 2 meter bisa dijual Rp 200 ribu. Darto menjelaskan untuk jenis kerai termahal merupakan jenis kerai lukis, yang dijual mulai dari Rp 500 ribu.

"Kalau yang lukis mahal minimal Rp 500 ribu jualan. Tergantung kesulitan gambar. Kan modalnya sekitar 250 ribu untuk beli cat, kuas dan lain-lain. Kalau kerai biasa paling modalnya sekitar Rp 40 ribu untuk bambu sama tali sekitar. Itu modal di luar tenaga," ungkapnya.

Untuk penjualan, Darto menjelaskan dirinya bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 4,5 juta per bulan. Adapun dalam satu bulan ia bisa menjual hingga 350 lembar kerai. Tak hanya itu, kerai-kerai tersebut juga berhasil merambah pasar luar negeri, yakni Portugal dan Brunei Darussalam.

"Kalau masalah omzet kan lakunya nggak pasti. Kalau satu bulan kita bikin sehari satu untuk ukuran 2,5 x 2 meter itu Rp 150 ribu kalau dikali 30 ya sekitar Rp 4,5 juta. Kalau jual paling jauh nggak nentu karena udah ke mana-mana pernah ke luar jawa, bahkan ke luar negeri. Kerai itu kalau di Jawa Tengah udah dikelilingi semua. Kalau paling banyak ke luar Jawa itu Kalimantan dan Bali," katanya.

Lebih lanjut Darto menjelaskan pengiriman kerai ke luar negeri ini telah ia lakukan bersama kelompoknya sejak tahun 2015. Adapun kerai-kerai ini dipesan oleh pelanggan asal Jepara untuk kemudian diekspor langsung ke Portugal dan Brunei Darussalam.

Di tangan perajin asal Kabupaten Grobogan ini bambu disulap menjadi kerajinan kerai. Tak tanggung-tanggung, kerai bambu ini bahkan sudah tembus pasar Portugal.Di tangan perajin asal Kabupaten Grobogan ini bambu disulap menjadi kerajinan kerai. Tak tanggung-tanggung, kerai bambu ini bahkan sudah tembus pasar Portugal. Foto: Andhika Prasetia/Detikcom

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik halaman kedua

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT