ADVERTISEMENT

Cerita Pembudi Daya Ikan: Gara-gara Melek Teknologi, Bisnis Naik 2 Kali Lipat

Tim Detikcom - detikFinance
Minggu, 24 Okt 2021 13:09 WIB
Seorang santri memberi pakan ikan koi yang dibudidayakan di Pondok Pesantren Al Barokah, Samben, Gunting, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (1/4/2021). Selain belajar tentang ilmu agama, para santri juga belajar budi daya ikan koi yang bertujuan agar para santri dapat bekal ilmu dalam mengembangkan usaha secara mandiri. Hasil budi daya ikan koi tersebut dijual dari harga Rp25 ribu per ekor hingga Rp7 juta per ekor tergantung ukuran dan motif ikan koinya. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.
Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Hal tersebut dijelaskan oleh Muktasim, salah seorang pembudidaya ikan patin dari Tulungagung. Dalam kondisi sulit seperti itu, ia menuturkan, para pembudidaya tidak memiliki pilihan lain kecuali menjual ikan dengan harga yang ditentukan sepihak oleh pembeli.

Kondisi seperti itu tidak asing karena Muktasim sudah mengalaminya sejak 1996 lalu, saat dirinya pertama kali menekuni profesi sebagai pembudidaya ikan. Hal tersebut berubah sejak 2019, ketika seorang temannya memperkenalkan metode budidaya ikan berbasis teknologi yang diusung eFishery.

"Bergabung dengan eFishery ada banyak manfaat yang saya rasakan. Terutama mereka memberikan
solusi masalah pakan berupa efisiensi pakan menggunakan mesin pelontar otomatis dan pinjaman pakan, serta membantu membuka jaringan pemasaran," ujar Muktasim.

Muktasim menjadi satu dari 18.000 pembudidaya ikan yang telah tergabung dalam ekosistem eFishery. Ia telah diperkenalkan dengan beragam teknologi akuakultur yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan usahanya.

Contohnya seperti eFisheryFeeder Ikan, yaitu mesin pemberi pakan ikan otomatis yang dapat dikontrol melalui ponsel mereka. Dengan eFisheryFeeder Ikan, Muktasim bisa dengan mudah mengatur jadwal pemberian pakan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Tidak hanya itu, setiap pakan yang dikeluarkan melalui eFisheryFeeder akan tercatat secara otomatis sehingga pembudidaya dapat terus memantau pengeluaran pakan setiap hari tanpa harus mencatat secara manual.

Berkat pemanfaatan teknologi tersebut, Muktasim yang awalnya memiliki hanya 15 kolam patin, dalam 2 tahun terakhir mampu menambah jumlah kolam budidayanya menjadi 35 kolam. Sehingga hasil panen yang diraup oleh Muktasim mampu mencapai 10 hingga 15 ton ikan patin per bulan, dari yang sebelumnya hanya berkisar 5 ton per bulannya.



Simak Video "Hore, 10 Ribu Nelayan di Jateng Bakal Dicover Asuransi"
[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT