Sri Mulyani Bicara Lagi Ancaman yang Bisa Kuras Keuangan Negara, Apa Itu?

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 27 Okt 2021 10:38 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani didampingi anggota dewan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2022, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/05/2021).
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap pandemi COVID-19 bukan akhir dari tantangan dalam pengelolaan keuangan negara. Ke depan masih ada tantangan lain, mulai dari perubahan iklim hingga teknologi digital.

"Kalau kita belajar pandemi ini bukan pertama kali dan bukan yang terakhir, pandemi COVID-19 ini hampir mirip flu Spanish atau flu Spanyol. Dampaknya menghancurkan banyak hal dan tidak boleh underestimate, dan kemudian kita mengatakan pandemi sudah lewat, belum," kata Sri Mulyani dalam Wisuda Akbar PKN STAN 2021 secara virtual, Rabu (27/10/2021).

Ia menyebutkan, tantangan selain pandemi COVID-19 yakni mengenai perubahan iklim dunia. Tantangan itu disebut juga akan menguras keuangan negara secara luar biasa.

"Ke depan dunia akan terus dihadapkan berbagai macam tantangan ada perubahan iklim yang nanti dampaknya luar biasa. Climate change ini dampak kepada keuangan negaranya juga luar biasa," tambahnya.

Selain itu, teknologi digital juga mempengaruhi cara bekerja dalam keuangan negara. Sebab teknologi akan menjadi platform utama dan menentukan teknologi akan terus berkembang dan mengubah kebiasaan masyarakat.

"Dan ini implikasinya keuangan negara sungguh sangat besar. Jadi kalian akan menjadi manusia yang akan mengelola keuangan negara diharapkan dengan perjalanan guncangan-guncangan yang akan terus bertubi-tubi hadir," lanjutnya.

Sri Mulyani juga mengulas bagaimana keuangan negara menopang guncangan pandemi COVID-19. Keuangan negara harus bisa melindungi rakyat Indonesia mulai dari anggaran kesehatan hingga, bantuan kepada masyarakat hingga meningkatkan kebutuhan rumah sakit sampai puskesmas.

"Itu menggunakan keuangan negara. Tenaga kesehatan berjuang di garis depan mereka mendapatkan insentif dari keuangan negara. Jadi keuangan negara ini menjadi peran yang ada di garis depan dan instrumen utama," ungkap Sri Mulyani.

"Masyarakat kehilangan pendapatannya, karena pada saat kita melakukan PPKM level 4 atau dulu PSBB, tiba-tiba kegiatan ekonomi berhenti masyarakat yang biasanya bisa berjualan, bekerja tiba-tiba mereka tidak bisa bekerja dan berjualan pendapatan mereka turun. Keuangan negara hadir mendukung mereka dan melindungi. Mendukung jaring pengaman sosial pada saat usaha-usaha kecil terpuruk. Kita berikan bantuan menggunakan instrumen negara.," tutupnya.

Lihat juga Video: DPR Setujui APBN 2022, Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,2%

[Gambas:Video 20detik]




(ara/ara)