Muslihat Robot Trading Abal-abal Bikin Boncos

detikTV - detikFinance
Kamis, 28 Okt 2021 07:52 WIB
Jakarta -

Tawaran Investasi menggunakan robot trading semakin banyak di Indonesia. Sejatinya robot trading merupakan algoritma indikator untuk membantu analisa secara teknikal atau grafik, namun tidak sedikit juga masyarakat yang mengalami kerugian.

"Sudah lumrah di luar negeri sudah lazim digunakan sejak tahun 70an, itu big fund sudah pada pakai semua, kemudian baru masuk investor atau trader elite itu sekitar tahun 1999 baru mulai berkembang sekarang," ujar Profesional Trader Desmond Wira dalam acara d'Mentor detikcom, Rabu (27/10/2021).

Desmon menilai banyaknya jatuh korban akibat robot trading abal-abal. Robot trading merupakan alat bantu dalam analisa trading untuk investor mengambil keputusan.

"Karena memang tujuannya itu. Sofware itu sebagai alat bantu kalau dalam trading bantu kita sebagai investor untuk ambil keputusan. Masalahnya kalau kita ikut investasi bukan robot trading yang asli itu yang beresiko. Itu yang terjadi sekarang," paparnya.

Sejalan dengan Desmond, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Indrasari Wisnu Wardhana menilai secara definisi robot trading hanya sekedar alat bantu. Namun yang terjadi belakangan software itu disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

"Ini benar sekali robot trading abal-abal, skema money game bukan robot trading. Karena kalau pakai robot apapun dalam investasi atau apa, resiko itu selalu sama. Karena pada dasarnya tidak semua memberikan keuntungan yang pasti," ujar pria yang akrab disapa Wisnu.

Wisnu katakan sejak Januari hingga bulan Agustus 2021, pihaknya sudah memblokir 139 situs robot trading. Situs yang diblokir kerap menggunakan modus penawaran investasi robot dengan sistem member get member.

"Pemblokiran ini kita juga kejar-kejaran dengan pembuat robot, karena ketika di blokir sejam dua jam kemudian muncul lagi dengan nama yang mirip-mirip," ujar Wisnu.

Wisnu menerangkan jika sudah ada tawaran investasi dengan jaminan keuntungan pasti, itu sudah pasti tidak benar. Lantaran dalam prinsipnya setiap perdagangan ada untung dan rugi.

"Kalau sudah ada keuntungan yang pasti kenapa tidak investasikan uangnya sendiri saja di situ, logika di situ ngapain ajak orang lain," tutupnya.

(edo/edo)