Faisal Basri Ungkap Beda Infrastruktur Era Bung Karno & Jokowi, Mana Lebih Baik?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 01 Nov 2021 12:34 WIB
Jakarta -

Ekonom Senior Faisal Basri cukup lantang mengkritisi sederet pembangunan infrastruktur yang dibangun pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Berbagai argumen dia sampaikan, salah satunya banyak proyek infrastruktur yang tidak realistis.

Namun beberapa pihak juga ada yang membela Jokowi. Mereka menyamakan proyek-proyek infrastruktur yang dibangun dengan pembangunan yang dilakukan Presiden Soekarno awalnya diragukan, namun di masa depan dibangga-banggakan karena bermanfaat.

Namun Faisal menampik pandangan tersebut. Menurutnya pembangunan yang dilakukan Jokowi dengan Bung Karno berbeda dan tidak bisa disamakan.

"Bung Karno memiliki visi yang panjang, Bung Karno punya ilmu yang memadai. Misalnya prinsip Bung Karno itu tanah subur tidak boleh dijadikan lahan industri, tidak boleh dijadikan ibu kota. Zaman Bung Karno telah dipancangkan Palangka Raya sebagai ibu kota, tiang pancangnya masih ada. Karena Palangka Raya gersang, gambut, tidak bisa ditanami," tuturnya saat berbincang dengan detikcom.

Bung Karno, lanjut Faisal, memiliki pemikiran besar dalam penguatan pangan Indonesia. Dia membangun Bendungan Jatiluhur dengan pinjaman sangat lunak dari 2 negara.

"Itu pinjaman, sangat lunak dan itu kunci menggerakkan sektor pertanian. Kemudian dia kembangkan ITB untuk menopangnya dari segi pendidikan, kemudian dia lengkapi dengan sekolah menengah pertanian. Jadi visinya luar biasa," tambahnya.

Selain itu beberapa pembangunan yang dilakukan Bung Karno seperti membangun Hotel Indonesia, Wisma Nusantara dan beberapa hotel di Pelabuhan Ratu dan Bali dananya berasal dari rampasan perang dari Jepang.

"Terlepas dari pro dan kontra, Bung Karno kan ingin menjadi pemimpin negara non blok, dia mengedepankan poros ketiga, jangan timur dan barat saja. Dia bikin Ganefo, dia terima sebagai tuan rumah Asian games, dia ingin menjadi pemimpin negara-negara yang berjuang menghadapi kekuatan-kekuatan besar di dunia ini. Maka dimintalah bantuan dari Rusia untuk bangun Stadion Utama Senayan itu yang sampai sekarang masih dimanfaatkan," tambahnya.

Lantas bagaimana pandangan Faisal Basri terhadap inftastruktur Jokowi? klik halaman berikutnya.

Sementara Jokowi, kata Faisal, jauh berbeda dengan visinya Bung Karno. Menurutnya sederet pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi tidak memiliki perencanaan yang baik.

"Kalau Pak Jokowi perencanaannya kurang baik dan asal tiru. Jadi misalnya di era Pak SBY kan ada jembatan Selat Sunda. Nah itu untuk memfasilitasi keinginan Tomy Winata, satu paket dengan jalan tol Sumatera. Nah jembatannya dibatalkan, tol Sumateranya jalan terus," tuturnya.

"Padahal di sepanjang Sumatera itu sudah ada yang namanya Trans Sumatera Highway, dan terbukti sekarang Pak Jokowi sadar itu tidak realistis maka dipotong separuhnya. Tidak lagi 2 ribuan km tapi cuma seribuan km. Pak Jokowi juga menerima kritik kalau kritiknya berdasar, argumennya kuat, terima kok," tambah Faisal.

Faisal juga mencontohkan proyek pembangunan Jokowi yang dianggap tidak memiliki perencanaan yang baik, yakni Pelabuhan Kuala Tanjung. Sebab berjarak jauh sudah ada Pelabuhan Belawan.

"Mau apa gitu. Kan kita harus membangun tuh fokus, kita perkuat sehingga fokusnya mengintegrasikan Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau supaya ongkos logistiknya turun. Jadi kita benahi ini domestic sea transportation itu, maka keluar dulu tol laut, kita sudah seneng, tapi setelah itu tidak pernah lagi dibicarakan tol laut. Sehingga ongkos sekarang ini, ongkos 1 kontainer dari Jakarta ke Belawan itu jauh lebih mahal dari Guangzhou ke Belawan," tutupnya.

(das/fdl)