Pemulihan Sektor Pariwisata Digenjot, Bagaimana Pelaku Industri Beradaptasi?

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 03 Nov 2021 12:36 WIB
Sektor pariwisata Indonesia babak belur dihantam virus Corona. Setahun COVID-19 di RI, sejumlah upaya pun dilakukan untuk bangkitkan pariwisata di Tanah Air.
Pemulihan Sektor Pariwisata Digenjot, Bagaimana Pelaku Industri Beradaptasi?
Jakarta -

Pemulihan di sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas pemerintah. Hal ini tercermin dari besarnya anggaran yang dicadangkan untuk mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif dari tiga aspek, yakni aksesibilitas, atraksi dan aseminitas, serta promosi maupun partisipasi pelaku swasta.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pada September lalu mengatakan ada anggaran sebesar Rp 9,2 triliun yang dicadangkan untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata pada 2022, yang terdiri dari alokasi belanja pemerintah pusat Rp 6,5 triliun dan transfer ke daerah Rp 2,8 triliun. Angka yang dicadangkan tahun depan tersebut naik dari alokasi Rp 7,67 triliun tahun ini.

Perhatian khusus memang diberikan terhadap industri pariwisata dan ekonomi kreatif karena tak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 menghantam sektor ini cukup telak.

"Bagaimana memulihkan pasar pariwisata kita melalui rebranding pariwisata dan bagaimana menciptakan resiliensi dari dunia pariwisata. Itu akan terus kita lakukan," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa waktu lalu.

Untuk tahun ini, dari Rp 7,67 triliun alokasi anggaran untuk pemulihan pariwisata, terdapat sejumlah program untuk mendukung destinasi pariwisata super prioritas, diantaranya Dana Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Likupang.

Sementara itu, CEO dan Co Founder Bobobox Indra Gunawan mengatakan hiburan pariwisata merupakan sesuatu yang tidak bisa dieliminasi.

"Marketnya sangat menunggu (pemulihan), kita lihat vaksin jadi solusi yang efektif, saya rasa akan terjadi market recovery yang baik," kata Indra, CEO perusahaan property-technology (prop-tech) yang fokus untuk penyediaan fasilitas beristirahat dan pengelolaan tempat wisata dengan menawarkan konsep modular.

Keputusan pemerintah untuk melonggarkan peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan melakukan uji coba pembukaan kembali destinasi wisata di Pulau Jawa dan Bali, membawa angin segar bagi para pelaku industry tourism dan hospitality, yang tengah berjibaku mempertahankan bisnisnya setelah mengalami penurunan drastis volume pengunjung akibat pemberlakuan PPKM dan PSBB.

Pemulihan di sektor ini diyakini dapat mulai terlihat pada akhir tahun 2021 dan tahun depan setelah pemerintah menggencarkan upaya program pemerataan vaksinasi untuk mendorong herd immunity, atau kekebalan komunal.

Selain itu, pelonggaran berbagai peraturan yang membatasi aktivitas sosial, hingga tambahan alokasi anggaran untuk sektor ini diharapkan dapat menghidupkan kembali geliat pariwisata, yang sebelum pandemi merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar di negara ini.

Meski pemulihan cukup terlihat saat ini, Indra mengingatkan hal ini akan dibarengi oleh kesadaran konsumen terkait pentingnya menjaga standar protokol kesehatan (prokes).

"Jadi fasilitas yang akan dipilih masyarakat adalah yang diketahui menjaga prokes dengan baik. Meskipun hotel bintang lima, kalau tidak menjaga prokesnya, saya rasa tidak akan menjadi preferensi konsumen saat ini," ujarnya.