Produk Olahan Kentang Lembang Tembus Pasar China & AS

Whisnu Pradana - detikFinance
Rabu, 03 Nov 2021 19:45 WIB
Produksi Kentang Lembang tembus pasar AS & China
Foto: Whisnu Pradana/detikcom: Produksi kentang Lembang
Bandung Barat -

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengembangkan serta merilis varietas unggul baru kentang industri hasil dari penelitian. Beberapa varietas unggul baru kentang tersebut yaitu Medians, Golden Agrihorti, dan Ventury Agrihorti.

Varietas kentang itu bahkan telah diekspor dalam bentuk olahan berupa keripik ke Amerika dan China dengan nilai ekspor Rp 2,8 Miliar. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang menengok langsung varietas unggul kentang dan hasil olahannya itu mengatakan meski masih dalam skala kecil namun ekspor tersebut diharapkan bisa jadi pemicu awal supaya produk tanah air untuk bisa diterima di pasar internasional.

"Hari ini kita melakukan ekspor kentang ke Cina dan Amerika, kentang yang sudah diindustrikan. Ini untuk pertama kali kita lakukan, karena selama ini kita makan keripik dan produk olahan lainnya itu lebih banyak impor," ungkap Syahrul kepada wartawan di Balitsa Lembang, Rabu (3/11/2021).

Upaya ekspor itu juga merupakan upaya meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri dengan mengurangi ketergantungan pada produk impor salah satunya kentang. Ia mengatakan modal Indonesia untuk mengembangkan kentang berkualitas cukup besar, baik dari sumber daya alam maupun petani.

"Petani kita banyak tanah kita subur mulai dari pegunungan hingga dataran rendah. Ini saatnya kita enggak impor. Sebagai komitmen mengurangi produk impor saat ini kita terus melakukan pengembangan kentang industri untuk negeri," jelas Syahrul.

Ia menjelaskan produk keripik kentang yang beredar di pasaran mayoritas impor. Selain kentang, komoditi lain seperti susu dan tahu juga bahan bakunya masih diimpor. Ia berharap nilai ekspor produk kentang dalam negeri ini tahun depan bisa meningkat menjadi Rp 100 miliar.

"Kita akan intensifkan ekspor ini sesuai arahan presiden. Hari ini kita menjajaki itu dan ternyata eksportirnya juga siap. Total Rp 2 miliar lebih, bahkan hampir Rp 3 miliar lah. Kita berharap tahun depan bisa naik jadi Rp 50 sampai Rp 100 miliar," pungkas Syahrul.

(hns/hns)