'Tangan Kanan' Warren Buffet Puji China Lebih Pintar dari AS

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 04 Nov 2021 09:23 WIB
Warren Buffett, chairman and chief executive officer of Berkshire Hathaway Inc., plays bridge at an event on the sidelines the Berkshire Hathaway annual shareholders meeting in Omaha, Nebraska, U.S., on Sunday, May 7, 2017. Buffet said the health care bill approved by House Republicans this week with the support of President Donald Trump will aid the wealthiest Americans at the expense of everyone else and will likely drive up the budget deficit. Photographer: Daniel Acker/Bloomberg via Getty Images
Ilustrasi/Foto: Istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua Berkshire Hathaway (BRKA), Charlie Munger memuji China karena lebih pintar dari Amerika Serikat (AS) dalam menangani ledakan ekonomi akibat pandemi COVID-19. 'Tangan kanan' Warren Buffet itu memang penggemar berat komunis Tiongkok dalam urusan mengelola ekonomi.

"China mengalami ledakan (ekonomi) alih-alih menunggu kegagalan besar. Tentu saja saya mengagumi itu. Dalam satu hal itu, mereka lebih bijaksana daripada kita," kata Munger dikutip dari CNN, Kamis (4/11/2021).

Teman lama dan mitra bisnis Warren Buffett yang berusia 97 tahun itu mencatat ideologi yang kontras dari dua ekonomi terbesar dunia antara China dan AS.

"Saya senang bahwa komunis China lebih pintar menangani ledakan daripada kapitalis Amerika. Tapi saya tahu banyak orang yang lebih pintar dari saya. Bukankah kita terkadang memiliki bangsa yang lebih pintar dari kita dalam beberapa hal?," tuturnya.

Seperti diketahui, China telah menikmati beberapa dekade pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di sisi lain, negara itu juga menghadapi kecaman atas catatan hak asasi manusianya.

Pada Maret lalu, negara seperti AS, Inggris, Kanada dan Uni Eropa mengumumkan sanksi terhadap pejabat China karena pelanggaran hak asasi manusia yang serius terhadap Muslim Uyghur.

Ditanya tentang tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan kekhawatiran atas gaya pemerintahan otoriter China, Munger mengatakan lebih suka kondisi di AS.

"Memang benar bahwa saya lebih suka sistem saya sendiri. Tetapi mengingat masalah yang dihadapi China, saya berpendapat bahwa sistem mereka telah bekerja lebih baik untuk mereka daripada sistem kita untuk kita," imbuhnya.

Miliarder itu mencontohkan dalam hal kemampuan China mengatasi masalah kelebihan penduduknya melalui langkah-langkah agresif yang bertujuan membatasi pertumbuhan penduduk.

"Anda tidak dapat melakukan itu dalam demokrasi nyata seperti kita. Mereka memiliki masalah yang tidak kita miliki. Mereka membutuhkan metode yang lebih keras daripada yang dapat kita gunakan di bawah Konstitusi kita," kata Munger.

Simak juga Video: Joe Biden Ejek China Klaim Pemimpin Dunia Tapi Tak Datang KTT COP26

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)