PLN Tolak Penghilangan Daya Max
Jumat, 21 Apr 2006 17:17 WIB
Jakarta - PLN tetap menolak keinginan pengusaha untuk menghilangkan tarif daya max bagi kalangan industri. PLN berargumen jika tarif daya max dihilangkan maka PLN akan mengalami kerugian yang sangat besar."Kalau tidak pakai pada beban puncak ada diskon. Alasannya pada waktu beban puncak PLN mengalihkan sumber energinya dari non BBM ke BBM jadi cost yang dikeluarkan PLN lebih besar. Jadi cara yang harus ditempuh adalah mengimbau industri untuk berhemat kata Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Sunggu Anwar Aritonang di Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (21/4/2006).Sunggu menjelaskan telah terjadi ketidakseimbangan antara cost dengan income. PLN saat ini masih defisit income sebesar 27 persen dibandingkan dengan cost-nya. "Setiap tambahan biaya adalah loss, jadi penghematan harus dilakukan dengan disinsentif kalau cuma imbauan tidak jalan," tambah Sunggu.Pernyataan Sunggu itu, menanggapi pernyataan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang tetap ngotot minta dihapuskannya tarif daya max."Kenapa masih ada beban puncak? Toh dari dulu dia sudah menyatakan antara income dan cost lebih besar dan pemerintah telah menutupinya dengan subsidi seharusnya tidak ada lagi income vs cost," kata Ketua Umum API Benny Soetrisno.Menurut Benny, subsidi yang diberikan ke PLN berasal dari APBN yang asalnya juga dari pajak yang dibayar kalangan industriawan. "Dari sisi asosiasi pada waktu beban puncak kita diberi cost double tapi ketika di malam hari saat orang tidur dan listrik tidak banyak digunakan. Kita tidak diberi insentif," keluhnya.Benny mengungkapkan, imbauan berhemat untuk tidak menggunakan listrik pada waktu beban puncak tidak bisa mereka turuti mengingat industri tekstil, fiber dan benang beroperasi 24 jam. "Hanya garmen yang memberlakukan shift satu dan dua," ungkapnya.
(mar/)











































