Cie... Hubungan Dagang RI-China Makin Mesra

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 17 Nov 2021 12:27 WIB
Ilustrasi Bisnis
Foto: Shutterstock / Cie... Hubungan Dagang RI-China Makin Mesra
Jakarta -

Hubungan perdagangan Indonesia dan China disebut sedang dalam kondisi bagus-bagusnya. Hal ini tercermin dari nilai perdagangan yang terjadi antar kedua negara.

Duta Besar Republik Indonesia untuk China Merangkap Mongolia Djauhari Oratmangun mengungkapkan Indonesia dan China saat ini juga punya kesepakatan pengembangan 4 koridor ekonomi. Mulai dari Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Bali dan Sulawesi Utara.

"Hubungan Indonesia dan China sedang bagus-bagusnya," kata dia dalam diskusi virtual, Rabu (17/11/2021).

Djauhari juga membeberkan data perdagangan Indonesia dan China. Pada 2020 volume perdagangan Indonesia dan China tercatat US$ 78,7 miliar dan investasi ke China tahun lalu realisasinya mencapai US$ 4,8 miliar.

Jika ditotal dengan realisasi dari Hong Kong maka mencapai US$ 8,3 miliar. "China adalah partner dagang terbesar Indonesia. Periode Januari-September 2021, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 85,4 miliar. Memang ada perbedaan US$ 9 miliar dengan angka BPS," ujarnya.

Kemudian investasi dari China tercatat US$ 2,3 miliar. "Jadi dengan nilai tersebut peringkat Indonesia sebagai mitra dagang hina naik dari 14 menjadi ke 13. Sedangkan di Asean naik dari 5 ke posisi 4. Negara yang masih di atas kita adalah Malaysia, Vietnam dan Thailand," jelas dia.

Djauhari menargetkan nilai transaksi akhir tahun ini bisa mencapai US$ 100 miliar. Karena itu dibutuhkan local currency settlement (LCS) untuk mendorong transaksi tersebut.

"Terima kasih untuk pejuang ekspor, dalam situasi pandemi ini kita bisa meningkatkan ekspor ke China, bahkan naiknya 50% dibanding periode yang sama tahun lalu," jelas dia.

Saat ini memang mayoritas transaksi antar negara masih menggunakan dolar AS. Kondisi ini bisa menimbulkan risiko nilai tukar pada rupiah.

"Dominasi dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional membuat rupiah bisa terdepresiasi, terutama ketika adanya periode capital outflow atau saat jatuh tempo pembayaran utang luar negeri (ULN) yang dilakukan dengan dolar AS. Ini akan berdampak ke stabilitas, tak heran jika mata uang rupiah terhadap dolar AS lebih fluktuatif," jelas dia.



Simak Video "Dituding AS Tingkatkan Kemampuan Senjata Nuklir, Ini Jawaban China"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)