Kasus COVID-19 Eropa Ngeri! Pemulihan Ekonomi Bisa Makin Lama

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 25 Nov 2021 09:08 WIB
Gelombang baru COVID-19 melanda sejumlah negara Eropa. Warga di Jerman pun ramai-ramai mendatangi pusat vaksinasi untuk mendapatkan vaksin COVID-19.
Warga di Jerman mendatangi pusat vaksinasi/Foto: AP Photo
Jakarta -

Pemulihan ekonomi di dunia masih dibayangi ketidakpastian. Melonjaknya kasus COVID-19 di kawasan Eropa menjadi salah satu penyebabnya.

Merebaknya kasus COVID-19 telah membatasi aktivitas bisnis di Benua Biru. Sejumlah negara pun diprediksi melakukan lockdown, seperti Austria, Jerman, hingga Prancis.

Ekonom IHS Markit, Chris Williamson mengatakan pertumbuhan ekonomi Eropa akan melambat pada kuartal IV-2021. Terutama akibat meningkatnya kasus COVID-19 yang menyebabkan perlambatan baru pada Desember.

"Tidak mungkin mencegah Eropa mengalami pertumbuhan yang lebih lambat pada kuartal IV, terutama karena meningkatnya kasus tampaknya menyebabkan gangguan baru pada ekonomi di bulan Desember," katanya dikutip dari CNN, Kamis (25/11/2021).

Ekonom Eropa di Bank of America, Ruben Segura-Cayuela mencatat setiap adanya gelombang COVID-19 yang baru dampaknya pasti ke ekonomi. Namun seharusnya masyarakat dan dunia sudah bisa belajar dari pengalaman sebelumnya.

"Kami tahu akan ada reaksi, kami hanya tidak tahu apakah itu akan menjadi besaran yang sama. Saya berasumsi, berdasarkan apa yang telah kita lihat selama beberapa bulan terakhir, dampaknya akan lebih kecil," tuturnya.

Selain kasus Corona yang merebak di Eropa, ketidakpastian pemulihan ekonomi juga disebabkan karena langkah-langkah yang dilakukan negara besar. Misalnya, China yang akan menggelontorkan stimulus baru untuk mengantisipasi stagnasi ekonominya akibat inflasi yang besar.

Kemudian, masalah di Amerika Serikat (AS) juga masuk menjadi faktor ekonomi dunia melambat. Negeri Paman Sam itu tengah dilanda krisis pasokan sejumlah komoditas.

Meski demikian, melawan ketidakpastian itu sejumlah negara berbondong-bondong melawan krisis energi yang diprediksi berlanjut pada musim dingin. China, India, Korea Selatan, dan AS menggelontorkan minyak darurat demi menurunkan harga yang belakangan melonjak.

Ahli strategi Damien Courvalin di Goldman Sachs memperkirakan antara 70-80 juta juta barel minyak yang akan digelontorkan. Dengan begitu, harga BBM mungkin mulai turun dalam waktu dekat.

Simak Video: Eropa Diamuk Covid-19, WHO Perkirakan 2,2 Juta Nyawa Melayang

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)