Transaksi Misi Dagang dan Investasi Jatim-Maluku Capai Rp 232,74 M

Angga Laraspati - detikFinance
Jumat, 03 Des 2021 13:20 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin misi dagang dan investasi ke Maluku Tengah, Provinsi Maluku, sebagai upaya mendorong percepatan pemulihan ekonomi dua provinsi tersebut akibat pandemi COVID-19.
Foto: Dok. Pemprov Jatim
Jakarta -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin misi dagang dan investasi ke Maluku Tengah, Provinsi Maluku, sebagai upaya mendorong percepatan pemulihan ekonomi dua provinsi tersebut akibat pandemi COVID-19. Tercatat, hingga pukul 17.18 WIT kemarin, total transaksi Misi Dagang dan Investasi antara Jawa Timur dan Maluku mencapai Rp 232,74 miliar.

Khofifah menyebut misi dagang yang dilakukannya tersebut bertujuan untuk menjalin jaringan pasar yang berkelanjutan dan mendorong potensi komoditi yang ada di masing-masing provinsi. Pasalnya, kegiatan itu diikuti 132 pelaku usaha, dengan 32 pelaku usaha dari Provinsi Jatim dan 100 pelaku usaha dari Provinsi Maluku yang menyuguhkan berbagai potensi yang ditransaksikan.

"Misi Dagang menjadi sarana untuk menggali potensi dan kerja sama antar pelaku usaha, serta meningkatkan kerja sama strategis di sektor industri, perdagangan, pariwisata, dan investasi," ungkap Khofifah dalam keterangan tertulis, Jumat (3/2/2021).

Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan kerja sama antara Jawa Timur dan Maluku kali ini merupakan proses resiprokal connection (hubungan saling berbalas). Sebab, dari 32 rute tol laut di Indonesia, 27 di antaranya memiliki basis di Surabaya.

Oleh karena itu, dia menyampaikan Pemprov Jatim saat ini tengah membangun konektivitas dengan Asosiasi Shipping Line, dalam rangka memberikan jembatan dan konektivitas yang mudah dan baik bagi beberapa eksportir dalam negeri yang melakukan perdagangan antar pulau dan antar provinsi khususnya di wilayah Indonesia Timur.

"Khususnya untuk UMKM. Untuk memenuhi satu kontainer bagi UMKM tidak mudah. Membangun konektivitas dengan market akses dalam dan luar negeri sangat penting. Kalau saat ini pada Triwulan Ketiga Ekspor kami memang defisit sebanyak Rp 49 T, tapi perdagangan antar pulau dan antar provinsi surplus sebanyak Rp 174 T," jelasnya.

Sekedar diketahui, komoditi jual dari Jatim dalam kegiatan misi dagang dan investasi adalah produk hasil pertanian dengan varietas beras, jagung, bibit tanaman, olahan rempah, sayur dan buah. Selain itu, terdapat pula hasil pertanian diantaranya kubis dan kentang hingga hasil peternakan di antaranya telur, olahan daging, daging, ayam potong, olahan ikan.

Sedangkan produk hasil perkebunan antara lain kakao dan olahannya, coco fiber, coco peat, rokok, gula, olahan singkong, bawang merah, olahan biji kopi dan aneka keripik, serta hasil produk kelautan diantaranya aneka hasil laut.

Tak hanya itu, terdapat pula kerajinan kulit ukir, sepatu, tas perempuan, peralatan dapur, kerajinan kuningan, fashion/aksesoris, produk mie keriting dan pupuk. Di sisi lain, komoditi beli dari Jawa Timur antara lain rempah, kopra, ikan, cengkeh dan lain sebagainya.

Ke depan, Khofifah berharap hubungan antara dua provinsi tidak hanya soal perdagangan saja, tapi juga melebar hingga penguatan industri kreatif dan penguatan SDM termasuk SDM untuk ASN.

Terlebih, BPSDM Jatim menjadi satu dari dua provinsi yang telah ditunjuk KemenpanRB dan LAN (Lembaga Administrasi Negata)RI sebagai pelopor Corporate University (Corpu).

"Kami ingin setelah ini ada kerja sama antara BPSDM Jatim dan BPSDM Maluku di bidang Corpu. Karena ini akan memberi penguatan SDM di masing-masing institusi baik di level Pemprov ataupun pemkab/pemko di Maluku dengan kami yang ada di Jatim," katanya.