Lira Turki Anjlok Gila-gilaan! Petani Jual Tanah, Warga Kurangi Makan

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 04 Des 2021 12:30 WIB
People, most wearing protective face masks to help protect against the spread of coronavirus, walk along Galata Bridge over the Golden Horn in Istanbul, Tuesday, Nov. 10, 2020. Turkeys government had urged the citys residents to limit their mobility and called on employers to offer workers flexible or staggered working hours and the possibility of working from homes. (AP Photo/Emrah Gurel)
Foto: AP Photo/Emrah Gurel
Jakarta -

Mata uang nasional Turki, yakni lira, telah anjlok 45% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini. Namun demikian, Presiden Recep Tayyip Erdogan dinilai tidak terlalu mempermasalahkannya. Padahal, kondisi ini sangat mempengaruhi warga Turki.

Dikutip dari BBC, Sabtu (4/12/2021), kejatuhan lira Turki ini berimbas pada tingkat inflasi. Perekonomian Turki sangat bergantung pada impor untuk memproduksi barang dari makanan hingga tekstil, sehingga kenaikan dolar terhadap lira berdampak langsung pada harga produk konsumen.

Salah satu yang mengalami kenaikan parah adalah tomat, bahan penting dalam masakan Turki. Untuk menanam tomat, produsen perlu membeli pupuk dan gas impor. Harga tomat naik 75% pada Agustus, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Bagaimana kita bisa menghasilkan uang dari ini? Kami jual murah, tapi biaya beli mahal," tanya Sadiye Kaleci, seorang petani anggur di wilayah Pamukova, Turki.

Petani lain, Feride Tufan, mengeluh satu-satunya cara dia bisa bertahan adalah dengan menjual asetnya. "Kami dapat melunasi utang kami dengan menjual tanah dan kebun anggur kami. Tetapi ketika kami menjual semuanya, kami tidak akan memiliki apa-apa lagi," katanya.

Mata uang menjadi sangat fluktuatif sehingga harga berubah setiap hari. Inflasi untuk produsen saja naik 50%. Warga Turki mulai mengencangkan ikat pinggang karena kondisi ini.

"Saya telah mengurangi semua pengeluaran saya. Untuk membayar tagihan, semua orang makan lebih sedikit dan tidak ada yang membeli barang, bahkan untuk makan" kata salah seorang warga Turki bernama Hakan Ayran.

Karyawan supermarket mengunggah kenaikan harga di media sosial, menunjukkan label sebelum dan sesudah produk. Mulai dari harga batas atas dan minyak zaitun hingga teh, kopi, detergen, dan tisu toilet.

Sebuah toko roti di kota ketiga Turki, Izmir, memasang tanda yang menjelaskan harganya yang lebih tinggi dengan mencantumkan biaya bahan-bahan yang melonjak seperti tepung, minyak, dan wijen, menandatangani dengan pesan "Semoga Tuhan menyertai kita."

(fdl/ara)